TUGAS PENELITIAN PENDIDIKAN

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Perkembangan zaman pada saat ini demikian pesatnya, sementara itu tantangan pembangunan Indonesia dihadapkan pada masalah yang sangat kompleks. Salah satu penyebabnya adalah semakin meningkatnya tuntutan bangsa dalam memenuhi kebutuhan serta keinginannya untuk maju. Guna menjawab tantangan dunia yang semakin bergejolak, tentu saja perkembangan sumber daya manusia harus diprioritaskan. Prioritas perkembangan sumber daya manusia tersebut perlu dilakukan mengingat pembangunan Indonesia yang berkualitas perlu dipersiapkan guna memberikan sumbangan program-program pembangunan yang telah direncanakan.

Salah satu upaya meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas adalah melalui pendidikan. Suatu Negara dikatakan maju atau tidak apabila sistem pendidikan didalamnya berlangsung dengan baik dan berkembang pesat mengikuti perkembangan zaman. Pendidikan merupakan titik tolak perwujudan generasi muda untuk siap bersaing di era globalisasi dan tuntutan zaman. Masalah pendidikan perlu mendapat perhatian khusus oleh Negara Indonesia yaitu dengan dirumuskannya Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (2003: 7) yang berbunyi:

Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan, membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bartakwa kepada Tuhan yang Maha Esa. Berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

GBHN 2004 menyatakan bahwa Pendidikan Nasional bertujuan meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, disiplin, beretos kerja, profesional, bertanggung jawab, produktif, serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan Nasional harus juga menumbuhkan jiwa patriotik dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa para pahlawan, serta berorientasi masa depan. Karena itu setiap penggal proses pendidikan yang diselenggarakan harus diarahkan secara nyata pada pencapaian tujuan tersebut.

Pendidikan adalah suatu usaha atau kegiatan yang dijalankan dengan sengaja, teratur dan berencana dengan maksud mengubah atau mengembangkan perilaku yang diinginkan. Sekolah sebagai lembaga formal merupakan sarana dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan tersebut. Dalam pendidikan formal, belajar menunjukkan adanya perubahan yang sifatnya positif sehingga pada tahap akhir akan didapat keterampilan, kecakapan dan pengetahuan baru. Hasil dari proses belajar tersebut tercermin dalam prestasi belajarnya. Namun dalam upaya meraih prestasi belajar yang memuaskan dibutuhkan proses belajar. Proses belajar yang terjadi pada individu memang merupakan sesuatu yang penting, karena melalui belajar individu mengenal lingkungannya dan menyesuaikan diri dengan lingkungan disekitarnya. Menurut Irwanto (1997 :105) belajar merupakan proses perubahan dari belum mampu menjadi mampu dan terjadi dalam jangka waktu tertentu. Dengan belajar, siswa dapat mewujudkan cita-cita yang diharapkan.

Belajar akan menghasilkan perubahan-perubahan dalam diri seseorang. Untuk mengetahui sampai seberapa jauh perubahan yang terjadi, perlu adanya penilaian. Begitu juga dengan yang terjadi pada seorang siswa yang mengikuti suatu pendidikan selalu diadakan penilaian dari hasil belajarnya. Penilaian terhadap hasil belajar seorang siswa untuk mengetahui sejauh mana telah mencapai sasaran belajar inilah yang disebut sebagai prestasi belajar.
Prestasi belajar menurut Yaspir Gandhi Wirawan dalam Murjono (1996 :178) adalah:

“Hasil yang dicapai seorang siswa dalam usaha belajarnya sebagaimana dicantumkan di dalam nilai rapornya. Melalui prestasi belajar seorang siswa dapat mengetahui kemajuan-kemajuan yang telah dicapainya dalam belajar.”

 

Pencapaian tujuan pengajaran ekonomi dapat dilakukan melalui suatu proses belajar mengajar yang baik, yakni dengan memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi kelancaran proses belajar mengajar. Menurut Uzer (1993: 9) “prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam diri siswa dan faktor yang berasal dari luar diri siswa”. Faktor yang terdapat dalam diri siswa adalah inteligensi, motivasi, minat, bakat, kondisi fisik, sikap dan kebiasaan siswa. Sedangkan yang termasuk faktor yang berasal dari luar diri siswa adalah keadaan sosial ekonomi, lingkungan, sarana dan prasarana, guru dan cara mengajarnya, kurikulum dan sebagainya.

Proses belajar di sekolah adalah proses yang sifatnya kompleks dan menyeluruh. Banyak orang yang berpendapat bahwa untuk meraih prestasi yang tinggi dalam belajar, seseorang harus memiliki otak yang cerdas (IQ) yang tinggi, karena kecerdasan merupakan bekal potensial yang akan memudahkan dalam belajar dan pada gilirannya akan menghasilkan prestasi belajar yang optimal. Menurut Slameto (1995: 54) salah satu faktor yang menentukan prestasi belajar adalah tingkat kecerdasan (IQ). Tingkat kecerdasan yang dimiliki siswa bersifat heterogen dan dapat digolongkan sesuai dengan tingkat kemampuannya. Pengetahuan mengenai tingkat kecerdasan  siswa akan membantu pengajar menentukan apakah siswa mampu mengikuti pengajaran yang diberikan atau tidak. Untuk mengetahui tingkat kecerdasan yang dimiliki siswa maka diperlukan suatu tes kecerdasan. Tes kecerdasan merupakan suatu tes yang berisi soal-soal yang disusun sedemikian rupa oleh para ahli sehingga hasilnya dapat menggambarkan tingkat kecerdasan yang dimiliki seseorang. Secara orang yang memiliki kecerdasan tinggi sering disebut pula anak yamg cerdas atau jenius. Dewasa ini juga sering orang memakai istilah solusi cerdas bagi pemecahan suatu masalah yang dilakukan secara benar dan tepat.

Menurut Binet dalam buku Winkel (1997:529) hakikat kecerdasan adalah kemampuan untuk menetapkan dan mempertahankan suatu tujuan, untuk mengadakan penyesuaian dalam rangka mencapai tujuan itu, dan untuk menilai keadaan diri secara kritis dan objektif. Kenyataannya, dalam proses belajar mengajar di sekolah sering ditemukan siswa yang tidak dapat meraih prestasi belajar yang setara dengan kemampuan kecerdasannya. Ada siswa yang mempunyai kemampuan kecerdasan tinggi tetapi memperoleh prestasi belajar yang relatif rendah, namun ada siswa yang walaupun kemampuan kecerdasan relatif rendah, dapat meraih prestasi belajar yang relatif tinggi. Itu sebabnya taraf kecerdasan bukan merupakan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan seseorang, karena ada faktor lain yang mempengaruhi. Menurut Goleman (2000 : 44), kecerdasan intelektual (IQ) hanya menyumbang 20% bagi kesuksesan, sedangkan 80% adalah sumbangan faktor kekuatan-kekuatan lain, diantaranya adalah kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) yakni kemampuan memotivasi diri sendiri, mengatasi frustasi, mengontrol desakan hati, mengatur suasana hati (mood), berempati serta kemampuan bekerja sama.

Dalam proses belajar siswa, kedua inteligensi itu sangat diperlukan. IQ tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa partisipasi penghayatan emosional terhadap mata pelajaran yang disampaikan di sekolah. Pendidikan di sekolah bukan hanya perlu mengembangkan Rational Intelligence yaitu model pemahaman yang lazimnya dipahami siswa saja, melainkan juga perlu mengembangkan kecerdasan emosional siswa.

Hasil beberapa penelitian di University of Vermont mengenai analisis struktur neurologis otak manusia dan penelitian perilaku oleh LeDoux (1970) menunjukkan bahwa dalam peristiwa penting kehidupan seseorang, EQ selalu mendahului intelegensi rasional. EQ yang baik dapat menentukan keberhasilan individu dalam prestasi belajar membangun kesuksesan karir, mengembangkan hubungan suami-istri yang harmonis dan dapat mengurangi agresivitas, khususnya dalam kalangan remaja (Goleman, 2002 : 17).

Memang harus diakui bahwa mereka yang memiliki IQ rendah dan mengalami keterbelakangan mental akan mengalami kesulitan, bahkan mungkin tidak mampu mengikuti pendidikan formal yang seharusnya sesuai dengan usia mereka. Namun fenomena yang ada menunjukan bahwa tidak sedikit orang dengan IQ tinggi yang berprestasi rendah, dan ada banyak orang dengan IQ sedang yang dapat mengungguli prestasi belajar orang dengan IQ tinggi. Hal ini menunjukan bahwa IQ tidak selalu dapat memperkirakan prestasi belajar seseorang. Kemunculan istilah kecerdasan emosional dalam pendidikan, bagi sebagian orang mungkin dianggap sebagai jawaban atas kejanggalan tersebut. Teori Daniel Goleman, sesuai dengan judul bukunya, memberikan definisi baru terhadap kata cerdas. Walaupun EQ merupakan hal yang relatif baru dibandingkan IQ, namun beberapa penelitian telah mengisyaratkan bahwa kecerdasan emosional tidak kalah penting dengan IQ (Goleman, 2002:44).

Menurut Goleman, khusus pada orang-orang yang murni hanya memiliki kecerdasan akademis tinggi, mereka cenderung memiliki rasa gelisah yang tidak beralasan, terlalu kritis, rewel, cenderung menarik diri, terkesan dingin dan cenderung sulit mengekspresikan kekesalan dan kemarahannya secara tepat. Bila didukung dengan rendahnya emosionalnya, maka orang-orang seperti ini sering menjadi sumber masalah. Karena sifat-sifat di atas, bila seseorang memiliki IQ tinggi namun taraf emosionalnya rendah maka cenderung akan terlihat sebagai orang yang keras kepala, sulit bergaul, mudah frustrasi, tidak mudah percaya kepada orang lain, tidak peka dengan kondisi lingkungan dan cenderung putus asa bila mengalami stress. Kondisi sebaliknya, dialami oleh orang-orang yang memiliki taraf IQ rata-rata namun memiliki emosional yang tinggi.

Pada saat seseorang belajar, maka akan mengikutsertakan seluruh keberadaan dirinya. Hal ini berarti bahwa pada saat proses belajar itu berlangsung, bukan saja otak yang bekerja tetapi juga emosi seseorang pada saat proses balajar mengajar. Hal inilah yang menyebabkan siswa SMP Negeri 3 Jatiyoso kurang mampu berkonsentrasi belajar. Akibatnya prestasi yang dicapai oleh siswa menjadi rendah atau tidak memuaskan. Siswa SMP Negeri 3 Jatiyoso perlu mengenal emosi saat menerima pelajaran supaya dapat memaksimalkan konsentrasi dalam belajar ekonomi, sehingga siswa dapat menggali materi lebih dalam.

Perkembangan dunia pendidikan sekarang ini, masih banyak siswa yang kurang aktif dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar yang ada disekolahan dan tingkat kecerdasan yang masih rendah. Hal inilah yang dapat menyebabkan tingkat prestasi belajar siswa rendah sehingga akan mengalami kesulitan juga dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Kegiatan belajar merupakan kegiatan yang utama dalam keseluruhan pendidikan disekolah yang bertujuan untuk menghasilkan perubahan-perubahan dalam bidang pengetahuan, pemahaman, penerapan, daya analisis dan evaluasi. Salah satu indikator tercapainya hasil belajar adalah dengan diketahuinya prestasi balajar yang dicapai oleh siswa sebagai subyek belajar. Prestasi belajar merupakan pencerminan hasil belajar yang dicapai siswa setelah usaha belajar yang dilakukannya selama jangka waktu tertentu. Dengan memperhatikan prestasi belajar maka dapat diketahui kemampuan dan kualitas belajar seseorang. Tingkat prestasi belajar seseorang akan memberikan sumbangan yang berarti bagi tercapainya kesuksesan seseorang di masa depan.

SMP Negeri 3 Jatiyoso merupakan salah satu sekolah menengah pertama yang menerapkan kurikulum sesuai dengan standar pemerintah. Dalam pelaksanan sebagai salah satu sekolah yang menerapkan program pemerintah, SMP Negeri 3 Jatiyoso mempunyai keunikan tersendiri. Jika dilihat siswa-siswi yang sekolah di SMP Negeri 3 Jatiyoso mayoritas masih memiliki semangat belajar yang tinggi. Hal ini dikarenakan sekolah yang terletak jauh dari perkotaan dan siswa-siswinya juga jauh dari perkotaan. Dengan adanya motivasi belajar yang antusias tersebut maka siswa akan dapat meningkatkan prestasi belajar.

Menurut Sumadi (1999:249) ”Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa adalah lingkungan sekolahan”. Lingkungan SMP Negeri 3 Jatiyoso cukup unik yaitu di lereng pegunungan gunung lawu yang tentunya lingkungan masyarakat maupun lingkungan alam masih tenang untuk kegiatan belajar mengajar. Dari letaknya tersebut maka siswa-siswi SMP Negeri 3 Jatiyoso belum banyak terpengaruh dengan kehidupan perkotaan yang sudah terpengaruh dengan hedonisme. Tidak dapat dipungkiri bahwa lingkungan pergaulan dapat juga mempengaruhi siswa dalam belajar baik pola belajarnya maupun frekuensi siswa dalam belajarnya. Menurut Wayan (1993:10) ”Lingkunan masyarakat merupakan salah satu faktor yang meneyebabkan keberhasilan maupun kegagalam siswa dalam belajar”.

SMP Negeri 3 Jatiyoso memang terletak jauh dari perkotaan, tetapi dalam kehidupan bermasyarakat siswa-siswi harus berinteraksi dengan masyarakat setempat yang tentunya juga membawa pengaruh positif dan negatif. Dalam masyarakat tentunya siswa akan berbaur dengan masyarakat lain yang terdapat sifat yang jelek seperti pergaulan bebas, mabuk, merokok, nongkrong dan lain sebagainya. Hal yang negatif tersebut tentunya akan berdampak pada kegiatan belajar siswa. Siswa akan terpengaruh pada ketertiban dalam sekolah, mengurangi porsi belajar, pola belajar yang jelek, malas belajar dan lain sebagainya. Hal itulah yang juga sering terjadi pada siswa-siswi SMP Negeri 3 Jatiyoso walaupun tidak semua siwa terpengaruh dalam hal yang negatif tersebut.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas penulis tertarik untuk mengadakan penelitian menegenai “PENGARUH EMOSIONAL DAN KECERDASAN OTAK TERHADAP PRESTASI BELAJAR EKONOMI PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 3 JATIYOSO”.

 

  1. B.  Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang ada, maka dapat diidentifikasikan beberapa masalah sebagai berikut :

1. Pendidikan Indonesia mengamanatkan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, ahlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

2. Tolak ukur keberhasilan proses belajar menagajar adalah dengan melihat prestasi belajar.

3. Indikator prestasi belajar adalah emosional dan kecerdasan otak.

  1. C.    Pembatasan Masalah

Supaya masalah yang diteliti tidak meluas maka perlu diadakan pembatasan masalah. Batasan masalah sangat penting karena merupakan fokus penelitian. Batasan masalah dalam penelitian ini adalah:

  1. Emosional yang dilakukan oleh siswa dalam kegiatan pembelajaran ekonomi di SMP Negeri 3 Jatiyoso.
  2. Kecerdasan otak siswa dalam kegiatan pembelajaran di SMP Negeri 3 Jatiyoso.
  3. Obyek penelitian ini dilakukan di SMP Negeri 3 Jatiyoso dengan jumlah responden sebanyak 50 siswa.

 

  1. D.    Perumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang masalah, serta pembatasan masalah seperti yang dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Apakah Emosional berpengaruh terhadap prestasi belajar ekonomi pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Jatiyoso?
  2. Apakah Kecerdasan Otak berpengaruh terhadap prestasi belajar ekonomi pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Jatiyoso?
  3. Apaka Emosional dan Kecerdasan Otak berpengaruh terhadap prestasi belajar ekonomi pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Jatiyoso?

 

 

  1. E.     Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian merupakan pijakan untuk merealisasikan aktivitas yang akan dilaksanakan, sehingga perlu dirumuskan secara jelas. Dalam penelitian ini perlu adanya tujuan yang berfungsi sebagai acuan pokok terhadap masalah yang akan diteliti, sehingga peneliti akan dapat bekerja secara terarah dalam mencari data sampai pada langkah pemecahan masalah. Adapun tujuan penelitian ini adalah:

  1. Untuk mengetahui pengaruh Emosional terhadap prestasi belajar ekonomi pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Jatiyoso.
  2. Untuk mengetahui pengaruh Kecerdasan Otak terhadap prestasi belajar ekonomi pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Jatiyoso.
  3.  Untuk mengetahui pengaruh Emosional dan Kecerdasan Otak terhadap prestasi belajar ekonomi pada siswa kelas VII SMP negeri 3 Jatiyoso.

 

  1. F.     Manfaat Penelitian

Dalam penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

  1. Sebagai masukan yang bersangkutan sehubungan dengan usaha sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan yang terkait dengan faktor-faktor pendukung keberhasilan siswa di sekolah.
  2. Memberikan bahan pemikiran bagi para pendidik dan orang tua akan pentingnya Emosional dan Kecerdasan Otak dalam hubungatannya dengan prestasi belajar.
  3. Memberikan petunjuk kepada siswa dalam usaha untuk meningkatkan prestasi belajar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


BAB II

LANDASAN TEORI

 

  1. A.      Kecerdasan Emosional
    1. Pengertian Kecerdasan

Kecerdasan menurut wechsler (sarlinto, 2001) adalah keseluruhan kemampuan individu untuk berpikir dan bertindak secara terarah serta mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif.

Menurut Binet (Atkinson, 1996) kecerdasan adalah kemampuan memahami dan menalar sesuatu. Binet berasumsi bahwa didalam kecerdasan terdapat suatu kecakapan dasar yang bilamana mengalami kekurangan atau perubahan akan mempengaruhi kehidupan. Kecakapan ini berupa daya timbang atau disebut akal sehat, inisiatif, kecakapan untuk mengadaptasikan diri dengan situasi. Menimbang dengan baik, menalar dengan baik merupakan suatu bentuk kecerdasan yang sangat penting.

Stern (Atkinson, 1996) mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan yang mencakup kemampuan untuk belajar dan mengambil manfaat dari pengalaman. Kemampuan untuk berpikir atau menalar, kemampuan untuk beradaptasi terhadap hal-hal yang timbul dari perubahan lingkungan dan kemampuan untuk memotivasi diri guna menyelesaikan secara tepat tugas yang perlu diselesaikan.

Berdasarkan teori diatas dapat diambil kesimpulan bahwa kecerdasan adalah kemampuan individu untuk belajar dan mengambil manfaat dari pengalaman untuk berpikir dan bertindak secara terarah guna menyelesaikan tugas secara tepat.

  1. Pengertian Emosi

Menurut Azhari (2004:149) menyatakan bahwa emosi (perasaan) adalah suatu keadaan kerohanian atau peristiwa kejiwaan yang kita alami dengan senang atau tidak senang dalam hubungannya dengan peristiwa mengenal dan bersifat subjektif. Untuk itu perasaan tidak dapat disamakan dengan gejala mengenal, dengan pengamatan, pikiran dan sebagainya. Sedangkan menurut Albin (1990: 11) bahwa emosi yang muncul dalam diri kita dengan berbagai nama seperti sedih, gembira, kecewa, semangat,marah, benci, cinta. Sebutan yang kita berikan kepada perasaan tertentu, mempengaruhi bagaimana kita berpikir mengenai perasaan itu dan bagaimana kita bertindak. Goleman (2000: 411) membagi emosi menjadi 8 macam emosi antar lain:

1)   Amarah seperti mengamuk, bengis, benci, jengkel, kesal hati, berang, terganggu, tersinggung, merasa hebat, bermusuhan, tindak kekerasan, kebencian patologis.

2)   Kesedihan seperti pedih, sedih, putus asa, muram-suram, mengasihi diri, kesepian, ditolak dan bisa menyebabkan depresi berat kalau menjadi patologis.

3)   Rasa takut seperti cemas, takut, gugup, khawatir, tidak tenang, ngeri, fobia, panik.

4)   Kenikmatan seperti bahagia, gembira, riang, senang, terhibur, bangga, takjub, terpesona, rasa puas, dan bisa menyebabkan menjadi mania.

5)   Cinta seperti penerimaan, persahabatan, rasa dekat, hormat, kasmaran dan kebaikan hati.

6)   Terkejut seperti takjub, terpana, terkesiap.

7)   Jengkel seperti hina, jijik, mual, tidak suka.

8)   Malu seperti rasa sedih, sesal, hati hancur, malu.

Dari teori-teori di atas dapat disimpulkan bahwa emosi adalah sumber energi yang bangkit dalam diri individu, mengaktifkan nilai-nilai individu dan membentuk perilaku individu sehingga memancar keluar dan dapat mempengaruhi orang lain. Emosi dibagi menjadi 8 emosi antara lain amarah, kesedihan, rasa takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel dan malu.

  1. Pengertian Kecerdasan Emosi

Kecerdasan emosi atau Emotional Intelligence merujuk kepada kemampuan mengenai perasaan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan hubungan dengan orang lain. Goleman (2000: 45) mengartikan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, megendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, berempati dan berdoa. Goleman (1999: 513) Salovey dan  Mayer mendefinisikan kecerdasan emosi sebagai kemampuan memantau dan mengendalikan perasaan sendiri dan orang lain, serta menggunakan perasaan-perasaan itu untuk memandu pikiran dan tindakan. Menurut  Salovey dan Mayer (Shapiro, 1997:8) mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai “ himpunan-bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah-milah semuanya, dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan.

  1. Bagian kecerdasan emosi

Menurut Bar-On (1996) kecerdasan emosi dibagi menjadi lima bagian yaitu:

1)   Intrapersonal

a)    Kesadaran diri emosional (Emotional Self-awareness): kemampuan untuk mengenali dan mengendalikan diri sendiri.

b)   Asertivitas: kemampuan untuk memperjuangkan hak dan dengan terbuka mengekspresikan pikiran, keyakinan dan perasaan dengan yang tidak destruktif.

c)    Self Regard: kemampuan untuk menghargai dan menerima diri sendiri yang pada dasarnya baik.

d)   Aktualisasi diri: kemampuan untuk menyadari kemampuan potensial yang dimiliki dengan cara melibatkan diri agar dapat menjalani hidup yang berarti, penuh dan kaya.

e)    Kemandirian: kemampuan untuk mengarahkan dan mengendalikan diri dalam berpikir dan bertindak, serta bebas dari ketergantungan emosional.

2)   Antarpersonal

Berkaitan dengan “keterampilan bergaul” yang kita miliki, kemampuan kita berinteraksi dan bergaul baik dengan orang lain. Wilayah ini terdiri dari tiga skala yaitu:

a)    Empati: kemampuan untuk menyadari, memahami dan menghargai perasaan orang lain.

b)   Hubungan interpersonal: kemampuan untuk membangun dan membina hubungan yang sama-sama memuaskan yang tampak dari keintiman serta pemberian dan penerimaan afeksi.

c)    Tanggung jawab sosial: kemampuan untuk menampilkan diri sebagai anggota kelompok sosial yang kooperatif, kontributif dan konstruktif.

3)   Orientasi kognitif

a)    Kemampuan memecahkan masalah (Problem Solving): kemampuan untuk mengidentifikasi dan mendefinisikan masalah serta dapat memunculkan serta menerapkan solusi yang efektif.

b)   Menguji kenyataan (Reality Testing): kemampuan untuk melihat hubungan antara apa yang dialami dengan apa yang ada secara obyektif.

c)    Fleksibilitas: kemampuan untuk mengatur pikiran, emosi dan perilaku sesuai dengan situasi dan kondisi yang berubah-ubah.

4)   Manajemen Stres

a)    Toleransi stres: kemampuan untuk bertahan ketika menghadapi peristiwa yang sulit dan situasi yang menekan tanpa menjadi rapuh dengan menghadapi stres tersebut dengan aktif dan positif.

b)   Mengendalikan impuls: kemampuan untuk menahan atau menghambat impuls, dorongan atau godaan untuk melakukan tindakan.

5)   Afeksi

a)    Kebahagiaan: kemampuan untuk merasa puas dengan kehidupan yang dialami, menyenangi diri sendiri dan orang lain serta bisa bersenang-senang.

b)   Optimisme: kemampuan untuk melihat sisi positif dari kehidupan dan bisa menjaga sikap yang positif walau menghadapi situasi yang buruk.

Dari teori-teori di atas dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional adalah suatu kemampuan emosional untuk mengontrol diri sendiri, memiliki semangat dan ketekunan, memotivasi diri sendiri, ketahanan menghadapi frustasi, mengatur suasana hati dan menunjukkan empati, harapan serta optimisme dalam mencapai tujuan.

 

  1. Aspek-aspek emosi

Salovey (Goleman, 2000: 57) mengatakan ada lima aspek kecerdasan emosional yang terdiri dari:

1)   Mengenali emosi diri (sadar diri), yaitu kemampuan untuk memantau perasaan dari waktu kewaktu seperti pemarah, pemalu, dan sebagainya.

2)   Mengelola emosi, yaitu menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat yang terdiri dari kemampuan untuk menghibur diri sendiri, melepaskan kecemasan, kemurungan atau keterasingan.

3)   Memotivasi diri sendiri, berkemauan besar untuk melibatkan diri dengan orang lain, mengendalikan dorongan hati, pandai menyesuaikan diri, tidak putus asa, mampu mengkondisikan suasana hati dan keinginan untuk berkreasi.

4)   Mengenali emosi orang lain (empati), yang merupakan keterampilan bergaul, mampu menangkap sinyal sosial yang tersembunyi dan mengisyaratkan apa yang dibutuhkan atau dikehendaki orang lain.

5)   Membina hubungan, dalam hal ini adalah mudah bergaul, hangat, dan memiliki banyak teman serta secara sosial mantap dan berimbang, sehingga akan menunjang popularitas, kepemimpinan dan keberhasilan antar pribadi.

Goleman (1999: 513) aspek-aspek kecerdasan emosi meliputi:

1)   Kesadaran diri

Mengetahui apa yang kita rasakan pada suatu saat dan menggunakannya untuk memandu pengambilan keputusan untuk diri sendiri, memiliki tolak ukur yang realitas atas kemampuan diri dan kepercayaan diri yang kuat.

2)   Pengaturan diri

Menangani emosi kita sedemikian rupa sehingga berdampak positif kepada pelaksanaan tugas, peka terhadap kata hati, dan sanggup untuk menunda kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran, mampu pulih kembali dari tekanan emosi.

3)   Motivasi

Kemampuan menggunakan hasrat yang paling dalam untuk menggerakkan dan menuntun kita menuju sasaran, membantu kita mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif dan untuk bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi.

4)   Empati

Merasakan yang dirasakan oleh orang lain, mampu memahami perspektif mereka, menumbuhkan hubungan saling percaya dan menyelaraskan diri dengan bermacam-macam orang.

5)   Keterampilan sosial

Menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain dan cermat membaca situasi dan jaringan sosial, berinteraksi dengan lancar, menggunakan keterampilan-keterampilan ini untuk mempengaruhi dan memimpin, bermusyawarah dan menyelesaikan perselisihan, dan untuk bekerja dalam tim.

Sedangkan Salovey dan Mayer (Shapiro, 1997:5) menyebutkan bahwa kecerdasan emosional meliputi beberapa aspek yaitu empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, disukai, kemampuan memecahkan masalah antar pribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan dan sikap hormat.

Berdasarkan uraian di atas maka dapat disimpulkan bahwa aspek dari kecerdasan emosi meliputi: mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain dan membina hubungan dengan orang lain.

  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi emosi

Menurut Goleman (1999) mengatakan bahwa ada dua faktor yang mempengaruhi kecerdasan emosional yaitu:

1)   Faktor lingkungan keluarga

Kehidupan pertama merupakan sekolah pertama dalam mempelajari emosi. Orang tua sebagai subyek pertama yang perilakunya diidentifikasi anak kemudian diinternalisasi yang akhirnya menjadi bagian dari kepribadian anak. Orang tua harus mampu memberikan contoh yang baik bagaimana mereaksi perasaan diri dan orang lain, mengungkapkan harapan serta mengambil pilihan perilaku yang tepat dalam menghadapi permasalahan. Peristiwa-peristiwa emosional yang terjadi pada masa kanak-kanak akan melekat dan menetap secara permanen pada diri anak hingga ia dewasa. Kehidupan emosional yang dipupuk dalam keluarga sangat berguna bagi anak kelak dikemudian hari, sebagai contoh: kebiasaan hidup disiplin dan bertanggung jawab, kemampuan berempati, kepedulian, kehangatan sikap dan sebagainya. Anak-anak yang secara emosional cakap akan memiliki pergaulan yang baik, lebih hangat dan memiliki sedikit kontra dengan orang lain.

2)   Lingkungan non keluarga

Yaitu lingkungan masyarakat dan pendidikan. Anak dapat belajar mengenai kecerdasan emosional melalui masyarakat disekitar tempat tinggalnya dan lingkungan pendidikan. Misalnya diajarkan untuk menghormati adanya perbedaan pendapat, tidak boleh memaksakan kehendak orang lain, semua ini secara tidak langsung telah membentuk emosi anak.

Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor pendorong kecerdasan emosional meliputi faktor keluarga yaitu berkehidupan emosional yang dipupuk dalam keluarga akan mempengaruhi kehidupan emosional anak di kemudian hari. Kemudian faktor non keluarga yaitu kecerdasan emosional anak dapat dipelajari melalui masyarakat di sekitar tempat tinggalnya dan lingkungan pendidikan.

 

  1. B.       Kecerdasan Otak
  2. Pengertian Kecerdasan otak

Menurut Binet sebagaimana yang dikutip Langer (1990:33) kecerdasan otak atau angka kecerdasan adalah “hasil-hasil yang diperoleh dari bandingan skor yang diperoleh seseorang dengan skor rata-rata kelompoknya”. Salah satu cara yang sering digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya tingkat inteligensi adalah menerjemahkan hasil tes inteligensi kedalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relatif terhadap suatu norma.

Secara tradisional, angka normatif dari hasil tes inteligensi dinyatakan dalam bentuk rasio (Quotient) dan dinamai Intelligence Quotient (IQ). Dari sini kita akan melihat bahwa pengertian tes inteligensi seringkali dan memang dapat dipertukarkan dengan pengertian tes IQ. Walaupun demikian, tidak semua tes inteligensi akan menghasilkan angka IQ karena IQ memang bukan satu-satunya cara untuk menyatakan tingkat kecerdasan seseorang. Selain pengertian Binet di atas, menurut Alder (2001:3) kecerdasan otak adalah “salah satu yang sangat diakui sebagai sesuatu yang bersifat genetik (faktor keturunan) dan tidak berubah”.

  1. Tes Kecerdasan Otak

Sasaran pengukura kecerdasan adalah General Ability. Suatu tes yang hanya diterapkan kepada suatu kemampuan tertentu, tidak mungkin bisa memberikan gambaran tantang General Ability seseorang. Tes tersebut haruslah yang bisa diterapkan kepada berbagai kemampuan sekaligus, atau berupa serangkaian tes yang masing-masing mengukur suatu aspek khusus General Ability.

  1. Meningkatkan skor Kecerdasan Otak

Menurut Alder (2001: 35) dalam Kecerdasan Otak ada dua cara utama untuk meningkatkan skor IQ. Pertama, meningkatkan kemampuan dengan mengikuti tes dan latihan, atau “penguasaan tes”. Dengan kata lain, diperlukan keterampilan untuk mengikuti sebuah tes psikometri. Keterampilan mengikuti tes dan latihan disetiap kategori akan jauh meningkatkan skor kecerdasan otak (IQ). Kedua, untuk meningkatkan skor adalah dengan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam setiap subyek tes. Ini berarti harus mengejar segala ketinggalan dan kembali mempelajari ulang apa yang telah dilupakan.

  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi inteligensi

Menurut Azhari (2004:148) mengatakan bahwa inteligensi dibentuk dan berkembang disebabkan oleh beberapa faktor antara lain sebagai berikut:

1)   Faktor pembawaan atau sifat-sifat dan ciri-ciri yang dibawa sejak lahir.

2)   Faktor kematangan, tiap-tiap organ tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Tiap organ dapat dikatakan telah matang apabila telah mencapai kesanggupan menjalankan fungsinya masing-masing dan kesiapan untuk dikembangkan. Dalam keadaan seperti ini perkembangan inteligensi juga akan berlangsung dengan baik.

3)   Faktor pembentukan atau segala faktor luar yang mempengaruhi inteligensi dimasa perkembangannya.

4)   Faktor minat, Dalam diri manusia terdapat dorongan-dorongan (motif) yang mendorong manusia untuk berinteraksi dengan dunia luar. Interaksi ini lama kelamaan akan menimbulkan  minat terhadap sesuatu. Apa yang menarik baginya akan mendorong untuk berbuat lebih baik dan lebih baik.

5)   Faktor kebebasan,  dimana manusia boleh memiliki metode-metode tertentu dalam menyelesaikan masalah, tak ada beban (tekanan) untuk berbuat mencapai sesuatu yang dapat menentukan kebutuhan sesuai dengan apa yang diminatinya.

 

  1. C.      Prestasi Belajar Ekonomi

Tujuan balajar pada hakekatnya adalah perubahan tingkah laku yang meliputi pengetahuan, sikap dan keterampilan. Kegiatan belajar dikatakan berhasil apabila dapat mencapai hasil yang optimal. Untuk mengetahui apakah hasil belajar itu dapat dicapai secara optimal maka perlu adanya penilaian atau evaluasi. Dari kegiatan evaluasi inilah dapat diketahui hasil atau prestasi yang telah dicapai siswa.

  1. Pengertian prestasi belajar

Pengertian prestasi menurut Kamus Bahasa Indonesia (1999: 787) adalah hasil yang dicapai (dari telah yang dilakukan, dikerjakan, dsb). Sedangkan prestasi belajar berarti penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai test atau angka nilai yang diberikan oleh guru.

Menurut Arifin (1990: 3) “kata prestasi berasal dari bahasa belanda yaitu prestatie yang kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasil usaha”. Dalam hal ini usaha yang dilakukan adalah usaha belajar sehingga dapat dikatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil dari proses belajar. Hal ini sesuai dengan pendapat Hamalik (2003: 159) bahwa “Hasil belajar menunjukkan pada prestasi belajar”. Sebagai indikator kualitas suatu lembaga pendidikan. Prestasi belajar dapat memberikan suatu kepuasan sendiri baik bagi para siswa maupun sekolah yang menyelenggarakan pendidikan. Hal ini dikemukakan oleh Arifin (1990: 3) yang mengemukakan bahwa:

Fungsi utama dari prestasi belajar antara lain:

1)   Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai anak didik.

2)   Prestasi belajar sebagai lambang pemusatan hasrat ingin tahu.

3)   Prestasi belajar sebagai indikator intern dan ekstern dari suatu institusi pendidikan. Indikator intern dalam arti bahwa prestasi belajar dapat dijadikan indikator tingkat produktivitas suatu institusi pendidikan. Indikator ekstern dalam arti bahwa tinggi rendahnya prestasi belajar dapat dijadikan indikator tingkat kesuksesan anak didik di masyarakat.

4)   Prestasi belajar sebagai bahan informasi dalam inovasi pendidikan.

5)   Prestasi belajar dapat dijadikan indikator terhadap daya serap (kecerdasan) anak didik.

Penilaian hasil belajar merupakan suatu kegiatan rutin pendidik. Penilaian ini dilakukan secar menyeluruh, dalam arti bahwa kegiatan ini hanya sekedar menilai hasil akhir saja tetapi juga langkah atau proses kerja dan hasil pemikiran siswa. Penilaian hasil belajar berarti mengambil keputusan terhadap hasil belajar dengan ukuran baik nuruk. Fungsi penilaian ini dilakukan agar dapat meningkatkan kegiatan belajar sehingga diharapkan dapat memperbaiki hasil belajar.

Berdasarkan uraian di atas dapt disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang dicapai sebagai bukti keberhasilan dari kegiatan belajar yang dinyatakan dalam bentuk simbol, angka atau huruf dengan memperhatikan proses dari hasil berpikir siswa dalam menyelesaikan soal evaluasi.

  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

Menurut Suryabrata (1981: 183) faktor yang mempengaruhi belajar itu dapat diklasifikasikan menjadi dua golongan, yaitu “faktor internal dan faktor eksternal”.

Faktor eksternal dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu:

1)   Faktor non sosial

Kelompok faktor-faktor ini berat dikatakan terbilang jumlahnya, misalnya keadaan udara, suhu udara, cuaca, waktu (pagi, siang, maupun malam), tempat (letaknya, gedungnya) alat-alat yang dipakai untuk belajar.

 

 

2)   Faktor sosial

Faktor sosial adalah faktor manusia tujuan lain terdengar banyak anak-anak lain bercakap-cakap disamping kelas maka itu dapat mengganggu konsentrasi belajar dan prestasi belajar pada murid yang sedang belajar tersebut.

Faktor internal dapat dibedakan menjadi dua golongan:

1)   Faktor-faktor fisiologis

Faktor-faktor fisiologis dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

a)    Keadaan jasmaniah pada umumnya

Keadaan jasmaniah pada umumnya ini dapat dikatakan melatarbelakangi aktivitas belajar. Keadaan jasmaniah yang segar akan lain pengaruhnya dengan keadaan jasmaniah yang kurang segar, keadaan jasmaniah yang lelah pengaruhnya lebih buruk dari pada tidak lelah.

b)   Keadaan fungsi jasmaniah tertentu terutama fungsi panca indera orangmengenal dunianya dan belajar dengan menggunakan panca indera, panca indera merupakan syarat agar belajar itu berlangsung dengan baik oleh karena itu menjadi kewajiban bagi setiap pendidik untuk menjaga agar panca indera anak didiknya dapat berfungsi dengan baik.

2)   Faktor-faktor psikologis

Salah satu yang perlu mendapatkan perhatian khusus, yaitu hal yang merupakan alasan dilakukannya perbuatan belajar. Menurut Frendsen, sebagaimana dikutip Suryabrata (1981: 186), hal-hal yang mendorong seseorang untuk belajar itu adalah sebagai berikut:

a)    Adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidikinya lebih luas.

b)   Adanya sifat yang kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk ingin maju.

c)    Adanya keinginan untuk memperbaiki kegagalan yang lalu dengan usaha yang baru.

d)   Adanya keinginan untuk mendapatkan simpati dari orang tua, guru.

e)    Adanya keinginan untuk mendapatkan rasa aman bisa menguasai pelajaran.

f)    Adanya pengajaran atau hukuman sebagai akhir dari pada belajar dan teman-teman.

  1. Pengertian prestasi belajar ekonomi

Ekonomi berasal dari bahasa Yunani Oikonomia, yang terdiri atas Oikos dan Nomos. Oikos artinya rumah tangga, Nomos artinya aturan. Arti sempit” ekonomi adalah aturan rumah tangga”. Arti luas “ekonomi adalah semua kegiatan manusia untuk memenuhi kebutuhan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada” (Nurhadi, 2000: 20). Ekonomi merupakan salah satu pelajaran yang tergabung dalam bidang studi IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Sebenarnya pelajaran ekonomi di Sekolah Menengah Atas ada dua cabang yaitu ekonimi murni dan ekonomi akuntansi atau keuangan.

Menurut penulis prestasi belajar ekonomi adalah tingkat keberhasilan siswa atau hasil maksimal yang diperoleh siswa dalam proses pemahaman materi-materi yang disampaikan oleh guru dan kemampuan siswa dalam mengerjakan maupun menyelesaikan tugas yang diberikan serta keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar ekonomi di kelas.

 

  1. D.      Hubungan Antara Emosi dan Kecerdasan Otak Terhadap Prestasi Belajar Ekonomi

1. Hubungan Emosi dengan Prestasi Belajar Ekonomi

kecerdasan emosional adalah suatu kemampuan emosional untuk mengontrol diri sendiri, memiliki semangat dan ketekunan, memotivasi diri sendiri, ketahanan menghadapi frustasi, mengatur suasana hati dan menunjukkan empati, harapan serta optimisme dalam mencapai tujuan. Kecerdasan emosional yang baik merupakan salah satu factor yang dapat mempengaruhi keberhasilan prestasi belajar. Apabila seorang siswa memiliki kecerdasan emosional dalam kegiatan belajar sudah baik, maka akan menunjang prestasi dan ketentuan belajarnya akan terus meningkat.

  1. Hubungan Kecerdasan Otak dengan Prestasi Belajar Ekonami

kecerdasan otak adalah kemampuan yang dimiliki oleh seseorang dan kemampuan otak yang dimiliki otak yang dimiliki orang yang satu dengan yang lain berdeda. Dengan kecerdasan otak (IQ) tnggi maka akan membantu dan mempermudah siswa dalam belajar, dan akan membantu siswa dalam mencapai keberhasilan prestasi belajar.

 

  1. Hubungan Emosi dan Kecerdasan Otak terhadap Prestasi Belajar Ekonomi

Proses belajar memiliki faktor-faktor yang mempengaruhinya baik yang berasal dari dalam maupun dari luar proses belajar. Kecerdasan emosional dapat meningkatkan prestasi belajar yang baik dalam belajar begitu juga dengan kecerdasan otak  yang baik dari semua elemen pendidikan dapat meningkatkan keberhasilan prestasi belajar.

 

  1. E.       Hipotesis

Menurut Sugiyono (2005: 306) ”hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah”. Sedangkan menurut Djarwanto dan Subagyo (1996: 183) “hipotesis adalah pernyataan mengenai sesuatu hal yang harus di uji kebenarannya, untuk bisa membuktikan benar atau tidaknya pernyataan ini diperlukan penelitian dan analisis” Dengan demikian pada hakekatnya hipotesis adalah keputusan atau kesimpulan yang masih bersifat sementara, dan untuk membuktikan benar atau tidaknya diperlukan penelitian dan analisis.

Dalam penelitian ini penulis mengajukan hipotesis sebagai berikut:

  1. Ada pengaruh Emosi terhadap prestasi belajar ekonomi pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Jatiyoso.
  2. Ada pengaruh Kecerdasan Otak terhadap prestasi belajar ekonomi pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Jatiyoso.
  3. Ada pengaruh Emosi dan Kecerdasan Otak terhadap prestasi belajar ekonomi pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Jatiyoso.

 


BAB III

METODE PENELITIAN

 

  1. A.    Penelitian Kuantitatif
    1. Pengertian Metode Penelitian

Menurut Nawawi (2005:4) “Metode adalah cara utama yang digunakan untuk mencapai tujuan”. Winarno (1999:88) juga menyebutkan “Penelitian adalah usaha menentukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan, usaha yang dilakukan dengan menggunakan metode-metode ilmiah”. Sedangkan menurut Arikunto (2002:136) “Metode penelitian adalah cara yang digunakan oleh peneliti mengumpulkan data penelitianya”.

Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa metode penelitian adalah suatu cara pelaksanaan penelitian keilmuan dalam rangka mendapatkan dan mengumpulkan fakta-fakta yang mendukung tercapainya tujuan penelitian.

  1. Jenis Penelitian

Menurut Sugiyono (2003:14) penelitian kuantitatif adalah penelitian dengan maksud memperoleh data yang berbentuk angka, atau data kualitatif yang diangkakan. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dimana data yang diperoleh dari sampel populasi penelitian kemudian dianalisis sesuai dengan metode statistik yang digunakan lalu diinterpretasikan.

  1. Rancangan Penelitian

Menurut Umar (2003:47) metode survai adalah riset yang diadakan untuk memperoleh fakta-fakta tentang gejala-gejala atas permasalahan yang timbul. Metode penelitian survai adalah usaha pengamatan untuk mendapatkan keterangan-keterangan yang jelas terhadap suatu masalah dalam suatu penelitian. Penelitian dilakukan untuk melukiskan hal-hal yang mengandung fakta-fakta, klasifikasi dan pengukuran yang akan diatur adalah fakta yang fungsinya merumuskan dan melukiskan apa yang terjadi.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa metode survai cocok untuk digunakan dalam penelitian ini karena sesuai dengan maksud penelitian, yaitu untuk memperoleh gambaran tentang pengaruh emosi dan kemempuan otak terhadap prestasi belajar ekonomi pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Jatiyoso.

 

  1. B.   Obyek Penelitian

Obyek penelitian merupakan hal-hal yang penting dalam penelitian, sebagai sumber informasi mengenai data yang akan diambil di dalam penelitian.

  1. Lokasi

Menurut Sumadi (1999:249) ”Salah satu faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar siswa adalah lingkungan sekolahan”. Lingkungan SMP Negeri 3 Jatiyoso cukup unik yaitu di lereng pegunungan gunung lawu yang tentunya lingkungan masyarakat maupun lingkungan alam masih tenang untuk kegiatan belajar mengajar. Dari letaknya tersebut maka siswa-siswi SMP Negeri 3 Jatiyoso belum banyak terpengaruh dengan kehidupan perkotaan yang sudah terpengaruh dengan hedonisme. Tidak dapat dipungkiri bahwa lingkungan pergaulan dapat juga mempengaruhi siswa dalam belajar baik pola belajarnya maupun frekuensi siswa dalam belajarnya. Menurut Wayan (1993:10) ”Lingkunan masyarakat merupakan salah satu faktor yang meneyebabkan keberhasilan maupun kegagalam siswa dalam belajar”.

  1. Waktu penilaian

Dalam penelitian ini peneliti mengambil lokasi pada SMP Negeri 3 Jatiyoso. Adapun yang menjadi pertimbangan adalah pihak sekolah bersedia memberikan penjelasan dan realita yang berkaitan dengan penelitian ini. Penelitian ini dilakukan selama 1 bulan yaitu pada bulan mei.

  1. Satuan Analisis

Dalam penelitian ini satuan analisis yang di gunakan adalah satuan unit analisis, yaitu suatu bentuk satuan analisis yang yang berupa individu atau dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Negeri 3 Jatiyoso.

  1. Populasi

Menurut (Sugiyono, 2003:73) menyatakan bahwa “populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik kesimpulan”. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 3 Jatiyoso seluruhnya 236 siswa.

  1. Sampel

Menurut (Djarwanto dan Subagyo, 1996:108), pengertian sampel adalah sebagian dari populasi yang karakteristiknya hendak diselidiki dan dianggap bisa mewakili keseluruhan populasi yang jumlahnya lebih sedikit dari jumlah populasi.

Sampel merupakan bagian dari populasi yang dapat mewakili data dalam keseluruhan data populasi untuk mempermudah proses penelitian. Untuk menentukan jumlah sampel dalam penelitian, menurut Arikunto (1996: 120-121) atau 20%-25% adalah sebagai berikut: Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya populasi. Selanjutnya jika jumlah subyek besarnya telah melebihi 100 maka diambil antara 10%-25% lebih, setidaknya:

  1. Kemampuan peneliti melihat dari segi waktu, tenaga dan biaya
  2. Sempit luasnya wilayah pengamatan dari setiap subyek karena hal ini menyangkut banyak sedikitnya data
  3. Besar kecilnya resiko yang ditanggung peneliti, tentu saja jika sampelnya lebih besar hasilnya akan lebih baik.

Sampel dalam penelitian ini  yang diambil ditetapkan 20%  dan populasi yaitu siswa  kelas VII  sebanyak 236 x 20% = sehingga sampelnya berjumlah 50 siswa.

 

 

  1. Sampling

Menurut (Djarwanto dan Subagyo, 1996:111)” sampling adalah cara atau teknik yang digunakan untuk mengambil sampel”.Agar diperoleh sampel yang tepat maka digunakan cara-cara tertentu yang dikenal dengan istilah sampling. Dalam penelitian ini menggunakan teknik random sampling  yaitu teknik pengambilan sampel dengan secara acak dan masing-masing siswa memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi anggota sampel penelitian.

 

  1. C.    Instrumen Penelitian
    1. Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini terdapat beberapa variasi yang harus ditetapkan oleh seseorang peneliti agar dapat mengumpulkan data dapat terarah sesuai dengan tujuan penelitian. Pada penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu:

  1. Variabel Independent / variabel bebas

Menurut Sugiyono (2006:3) variabel bebas adalah variabel yang meliputi yang menjadi sebab timbulnya / berubahnya variabel dependent (variabel terikat). Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah Emosi (X1), Kemampuan Otak (X2).

  1. Variabel Dependent / variabel terikat

Merupakan variabel yang dipengaruhi menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah prestasi belajar ekonomi (Y).

  1. Definisi Konsep dan Definisi Operasional
    1. Definisi konsep

Agar penelitian ini sesuai dengan tujuan yang diharapkan menghindari dari kesalahpahaman, maka perlu diberikan definisi operasional yaitu :

  1. Kecerdasan Emosional

Salovey dan Mayer (Shapiro, 1997:5) menyebutkan bahwa kecerdasan emosional meliputi beberapa aspek yaitu empati, mengungkapkan dan memahami perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri, disukai, kemampuan memecahkan masalah antar pribadi, ketekunan, kesetiakawanan, keramahan dan sikap hormat

  1. Kecerdasan Otak

Menurut Binet sebagaimana yang dikutip Langer (1990:33) kecerdasan otak atau angka kecerdasan adalah “hasil-hasil yang diperoleh dari bandingan skor yang diperoleh seseorang dengan skor rata-rata kelompoknya”. Salah satu cara yang sering digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya tingkat inteligensi adalah menerjemahkan hasil tes inteligensi kedalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relatif terhadap suatu norma.

  1. Prestasi Belajar

Prestasi belajar adalah suatu hal yang dicapai atau didapat oleh seseorang yang merupakan hasil dari kegiatan belajar yang dilakukan. Prestasi belajar dapat berupa nilai, indeks prestasi, ataupun kemampuan operasional yang didapat dari kegiatan belajar yang dilakukan dalam bentuk praktik. Dengan melihat Prestasi belajar dapat diketahui sejauh mana kemampuan yang diperoleh siswa dalam menerima materi pelajaran yang disampaikan oleh guru.

  1. Definisi operasional

Berdasarkan pendapat pendapat para ahli, variabel penelitian yang diungkap mempunyai pengertian sebagai berikut :

  1. Kecerdasan Emosional

Goleman (2000: 45) mengartikan bahwa kecerdasan emosional adalah kemampuan seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, megendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan, dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berfikir.

  1. Kecerdasan Otak

Menurut Alder (2001:3) kecerdasan otak adalah “salah satu yang sangat diakui sebagai sesuatu yang bersifat genetik (faktor keturunan) dan tidak berubah”.

  1. Prestasi Belajar

Menurut Arifin (1990: 3) “kata prestasi berasal dari bahasa belanda yaitu prestatie yang kemudian dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasil usaha”. Dalam hal ini usaha yang dilakukan adalah usaha belajar sehingga dapat dikatakan bahwa prestasi belajar adalah hasil dari proses belajar.

3.  Indicator Variabel Penelitian

Variabel Bebas (X), yang terdiri dari :

  1. Emosi (X1)

Indikator :

1)   Faktor lingkungan keluarga

2)   Faktor non lingkungan keluarga

  1. Kecerdasan Otak (X2)

Indikator :

1)      Faktor pembawaan

2)      Faktor kematangan, tiap-tiap organ tubuh manusia mengalami pertumbuhan dan perkembangan.

3)      Faktor pembentukan atau segala faktor luar yang mempengaruhi inteligensi dimasa perkembangannya.

4)      Faktor minat

5)      Faktor kebebasan

Variabel Terikat (Y), yaitu hasil belajar siswa dengan indikator nilai rata – rata ulangan harian ekonomi siswa kelas VII SMP Negeri 3 Jatiyoso.

  1. Kisi-Kisi Variabel Penelitian

Sebelum dilakukan penyusunan angket tertulis dibuat dahulu konsep yang berupa kisi-kisi variabel penelitian yang disusun dalam suatu tabel, kemudian dijabarkan dalam aspek dan indikator yang sesuai dengan tujuan penelitian yang akan dicapai.

Tabel 3.1 kisi-kisi variabel penelitian

Kecerdasan Emosi

 

Variabel

Indikator variabel

Nomor item

Favourable

Unfavourable

Kecerdasan emosi

a. Mengenali emosi diri

b. Mengelola emosi

c. Memotivasi diri sendiri

d. Mengenali emosi orang  lain

e. Membina hubungan

1-2

3-4

5-6

7-8

9-10

11-12

13-14

15-16

17-18

19-20

Jumlah

10

10

 

  1. Angket
  2. Pembuatan kisi-kisi angket

Sebelum dilakukan penyusunan angket tertulis dibuat dahulu konsep yang berupa kisi-kisi angket yang disusun dalam suatu tabel, kemudian dijabarkan dalam aspek dan indikator yang sesuai dengan tujuan penelitian yang akan dicapai. Dari aspek dan indikator tersebut kemudian dijadikan landasan penyusunan kisi-kisi angket.

Tabel 3.2 kisi-kisi angket

Kecerdasan Emosi

 

Variabel

Indikator variabel

Nomor item

Favourable

Unfavourable

Kecerdasan emosi

a. Mengenali emosi diri

b. Mengelola emosi

c. Memotivasi diri sendiri

d. Mengenali emosi orang  lain

e. Membina hubungan

1-2

3-4

5-6

7-8

9-10

11-12

13-14

15-16

17-18

19-20

Jumlah

10

10

  1. Penyusunan Angket

Setelah kisi-kisi angket dibuat maka item-item pertanyaan disertai dengan alternatif jawaban kemudian disusun pedoman pengisian angket. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa angket merupakan alat pengumpul data yang berupa daftar pertanyaan atau isian yang harus diisi oleh subyek penelitian.

  1. Menentukan Skor Angket

Penilaian angket mengacu pada skala likert 1 sampai 5 yang dikelompokkan menjadi, Favorable dan Unfavorable (Sugiyono, 2005:74). Skoring masing-masing ítem Favourable (positif) adalah:

Sangat setuju (SS)              : 4

Setuju (S)                            : 3

Tidak setuju (TS)                : 2

Sangat tidak setuju (STS)   : 1

Skoring masing-masing ítem Unfavourable (negatif) adalah:

Sangat tidak setuju (STS)               : 4

Tidak setuju (TS)                            : 3

Setuju(S)                                        : 2

Sangat setuju (SS)                          : 1

  1. Uji Coba Angket

Agar angket benar-benar fungsional, akurat, tegas dan dimengerti oleh responden. Maka angket perlu diuji coba terlebih dahulu. Uji coba item-item angket dimaksudkan untuk mendapat alat pengukuran yang benar-benar sesuai dengan sasaran. Untuk itu perlu dilakukan uji validitas dan reliabilitas angket. Uji coba (try out) dilaksanakan terhadap siswa kelas VII SMP Negeri 3 Jatiyoso tahun ajaran 2009/2010 yang tidak menjadi anggota sampel.

Setelah kisi-kisi angket dibuat maka item-item pertanyaan disertai dengan alternatif jawaban kemudian disusun pedoman pengisian angket. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa angket merupakan alat pengumpul data yang berupa daftar pertanyaan atau isian yang harus diisi oleh subyek penelitian.

 

  1. D.  Teknik Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang sesuai dengan tujuan penelitian, maka peneliti menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:

  1. Metode Angket

Angket adalah “sejumlah pertanyaan yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau mengenai hal-hal yang ia ketahui” (Arikunto, 1997:37). Dengan kata lain, angket merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara menggunakan pertanyaan yang harus dijawab atau dikerjakan oleh orang yang menjadi subyek data. Dalam penelitian ini penulis menggunakan angket dengan memakai jenis angket tertutup dan cara memberikan dengan cara langsung dimana angket dijawab oleh responden yang bersangkutan diberi kesempatan untuk memberikan jawaban yang disediakan.

  1. Metode Obserfasi

Menurut Arikunto (1999:30) metode obserfasi adalah ”suatu teknik yang dilakukan cara mengadakan pengamatan secara teliti secara perencanaan dan secara sistematis”.  Metode obserfasi dalam penelitian ini digunakan untuk memperkuat dan memperjelas data yang diperoleh melalui angket.

  1. Metode Dokumentasi

Menurut (Arikunto, 1998:141)” Dokumentasi adalah mencari data atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, raport, agenda dan sebagainya”. Dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi untuk memperoleh data kecerdasan otak (IQ) dan data prestasi belajar siswa. Metode dokumentasi dalam penelitian ini digunakan untuk mencari data tentang:

  1. Daftar nama siswa yang akan digunakan sebagai sampel penelitian
  2. Hasil tes kecerdasan otak (IQ) siswa
  3. Nilai ekonomi siswa kelas VII tahun pelajaran 2009/2010 yang diperoleh dari nilai raport.

 

  1. E.     Teknik Penyajian Data

Metode penyajian data adalah langkah-langkah mereduksi data penelitian dan penyajian dalam bentuk statistik sehingga mudah dimengerti dan dipahami. Dalam penelitian ini penyajian data disampaikan melalui tabel, tendensi sentral, standar deviasi dan poligon.

  1. Teknik Membuat Tabel

Penyajian data hasil penelitian dengan menggunakan tabel merupakan peyajian yang banyak digunakan, karena lebih efisien dan cukup komunikatif. Tabel merupakan kumpulan angka-angka yang disusun sedemikian rupa menurut kategori-kategori tertentu sehingga memudahkan dalam melakukan pembahasan dan analisa data. Dalam membuat tabel perlu diperhatikan p pokok-pokok berikut (Supramono dan Sugiarto, 1993: 23):

  1. Suatu tabel hendaknya mempunyai judul untuk mempermudah dalam membedakan tabel yang satu dengan tabel yang lain.
  2. Unit pengukuran angka-angka yang terdapat dalam baris dan kolom tabel harus dijelaskan secara eksplesit.
  3. Kategori kelas dalam tabel harus tegas, jangan sampai terjadi tumpang tindih antara kelas yang satu dengan kelas yang lain.
  4. Sumber data dan keterangan perlu dicantumkan guna mempermudah pegecekan kembali pada sumbernya bila pada data dijumpai adanya keraguan.
  5. Keterangan yang diberikan pada tabel harus jelas agar tidak membingungkan.
  6. Panjang  kelas ( Range)

Menurut Mustafa (1998 : 50) “Range adalah jarak atau beda antara harga tertinggi dengan harga terendah dari sekelompok data”.  Range ditentukan dengan rumus :

Panjang kelas =

  1. Jumlah kelas

Menurut Mustafa (1998 : 14) “Salah satu cara menentukan jumlah kelas, dalam suatu distribusi frekuensi adalah dengan menggunakan Kriterium Sturgers”.  Dengan formasi sebagai berikut :

K =1+3,322 log . n

Keterangan :

K         = Banyak kelas yang sedang di cari

N         = Banyak data

  1. Interval kelas

Nazir (1998:445) “Besar interval kelas adalah selisih antara limit bawah dari interval atau mula-mula atau selisih dari limit atas dua yang berurutan”. Besernya interval dapat dihitung dengan rumus :

 

Keterangan :

i                    =  Interval kelas

jarak/range    = Selisih antara angka terbesar dengan angka terkecil dari sekelompok data

  1. Mean

Menurut Mustafa (1998:25) “Mean dalam istilah sehari-hari disebut angka rata-rata, sedangkan dalam istilah statistik disebut  Arithmatik Mean”. Jadi dapat dikatakan mean adalah suatu nilai rata-rata dari semua nilai data observasi. Untuk menghitung mean digunakan rumus sebagai berikut :

 

Keterangan:

= Nilai mean

F                = Frekuensi tiap-tiap kelas

X               = Titik tengah tiap kelas

= Jumlah

n                = Banyaknya data

  1. Standar Deviasi

Sutrisno (2000:87) “Standar deviasi adalah suatu statistik yang digunakan untuk menggambarkan variabilitas dalam suatu distribusi maupun variabilitas beberapa distribusi”. Untuk menghitung standar deviasi menggunakan rumus angka kasar sebagai berikut:

Keterangan :

SD       = Standar deviasi

N         = Jumlah individu

Jumlah kuadrat skot item

Jumlah skor item

  1. Membuat Diagram

Sutrisno (2000:22) “Poligon adalah bentuk diagram yang berbentuk diagram yang mudah dipahami. Poligon adalah grafik yang berwujud garis-garis atau kurva (garis-garis yang dilicinkan)”. Poligon merupakan bentuk diagram yang menggunakan garis yang menghubungkan titik-titik yang merupakan koordinat antara nilai titik tengah kelas dengan jumlah frekuensi pada kelas tersebut. Titik tengah kelas merupakan representasi dari karakter kelas dan nilai tengah ini menggantikan posisi kelas pada diagram histogram. Pada grafik poligon, sumbu horizontal merupakan nilai tengah kelas dan sumbu vertikal adalah jumlah  f  setiap kelas.

  1. F.     Teknik Analisis Data
    1. Uji Multiko
      1. Uji Normalitas data

Menurut Sutrisno (2004:1) Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui normal tidaknya suatu distribusi data  Adapun pengujian normalitas ini dengan rumus lilliefors.

Prosedur uji normalitas menggunakan metode liliefors adalah sebagai berikut :

1)      Hipotesis

H0 = Sampel berasal dari populasi normal.

H=  Sampel tidak berasal dari populasi normal.

2)      Statistika Uji

L = Maks │F (Zi) – S (Zi)│

Dimana :

F (Zi)   = P (Z≤ Zi) dengan Z ~ N(0,1)

S (Zi)   = Proporsi cacah Z≤ Zi, terhadap seluruh cacah Zi

S       = Deviasi standart atau simpangan baku.

Zi      = Skor standart

=

3)      Taraf Signifikansi : α = 0,05

4)      Daerah Kritik  : DK = (Lmaks │Lmaks ≥ Lα,n ) harga lain dapat diperoleh dari tabel liliefors pada tingkat signifikansi α dengan derajat kebebasan.

5)      Keputusan Uji

H0 ditolak jika L  DK, atau H0 diterima jika L  DK

 (Budiyono, 2000:169)

  1. Uji Linieritas

Sutrisno (2004:2) mengemukakan Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui linieritas hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Jika nilai probabilitas > 0,05 maka dapat dinyatakan linier atau Ho diterima  Pengujian linieritas dalam penelitian ini menggunakan bantuan SPSS V 15.0.

  1. Korelasi Dua Variabel

Analisa  ini  digunakan untuk menganalisa atau mengetahui hubungan antara variabel atau mengetahui hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergantung (Dajan, 1991 : 376).

Rumus yang digunakan adalah :

Korelasi antara Emotional Quotient  dengan Intelligence Quotient :

 

Korelasi antara Emotional Quotient  dengan prestasi belajar ekonomi Y.

 

Korelasi antara Intelligence Quotient  dengan prestasi belajar ekonomi Y.

 

Untuk menarik kesimpulan tentang hubungan tersebut digunakan interprestasi nilai r sebagai berikut :

  1. Bila r   = 0, maka hubungan antara kedua variabel sangat lemah atau tidak ada hubungan sama sekali.
  2. Bila r   = 1 atau mendekati 1, maka korelasi antara korelasi dua variabel dikatakan positif atau kuat sekali.
  3. Bila r   = -1 atau mendekati -1, maka korelasi antara korelasi dua variabel dikatakan negatif atau kuat sekali.
    1. Korelasi Parsial.

Analisis ini digunakan untuk mengukur koefisien korelasi antara Y (prestasi belajar ekonomi) dengan variabel ( ) Emosi dengan ( ) Kemampuan otak konstan dan mengukur koefisien korelasi antara variabel Y (prestasi belajar ekonomi) dengan variabel  (kemampuan otak) dengan menganggap  (Emosi) konstan.  Rumusnya adalah sebagai berikut.

Koefisien korelasi Y dengan :

 

Koefisien korelasi Y dengan :

 

Untuk menarik kesimpulan tentang hubungan tersebut digunakan interprestasi nilai r sebagai berikut:

  1. Bila r   = 0, berarti tidak ada korelasi antara variabel bebas dengan variabel terkait.
  2. Bila r   = 1 atau mendekati 1,  berarti tidak ada korelasi sempurna positif, berarti ada hubungan variabel bebas dengan variabel terikat.
  3. Bila r   = -1 atau mendekati -1,  tidak ada korelasi sempurna negatif, berarti bahwa variabel ada hubungan variabel bebas dengan variabel terikat.
    1. Korelasi  Berganda.

Analisis ini digunakan untuk mengetahui pertautan antara variabel tidak bebas (variabel Y) dengan variabel bebas (variabel X) secara serempak.

Rumusnya :

 

Dimana :

 

 

 

 

(Djarwanto & Subagyo, 1996 : 350-351).

  1. Persamaan Regresi

Untuk mengetahui pengaruh variabel bebas (emosi dan kemampuan otak) terhadap variabel terikat (prestasi belajar ekonomi).

Dari analisis variabel diatas diperoleh persamaan regresi linear berganda sebagai berikut:

 

Dimana :

Y         = prestasi belajar ekonomi

X        = Emosional (EQ)

X        = Kemampuan otak (IQ)

a          = Konstanta

b          = Koefisien Korelasi

 

Untuk  mendapatkan nilai a, b  dan b  dapat menggunakan persamaan sebagai berikut :

 

 

.

Parameter yang ada dapat ditentukan melalui persamaan sebagai berikut :

.

.

.

(Djarwanto, 1996:311-313).

  1. Uji  – t Test

Pengujian secara individu ini membuktikan bahwa koefisien regresi suatu model itu statistik signifikan atau tidak maka dipakai uji – t.

Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Persamaan hipotesis

Ho :  = 0 berarti tidak ada pengaruh antara variabel X dan variabel Y.

Ho :    0 berarti ada pengaruh antara variabel X dan variabel Y.

  1. Menentukan level of significant a = 0,05.
  2. Kriteria pengujian.

 

 

 

Daerah diterima

Daerah ditolak

Daerah ditolak

–t  tab (a/2; (n-k-1)

t  tab (a/2; (n-k-1)

 

 

H diterima apabila : –t  tab (a/2; n-k-1)  t  tab (a/2; (n-k-1).

H  ditolak  apabila : t (a/2; n-k-1) atau t (a/2; n-k-1).

Nilai t hitung:

t hitung  = .

dimana :

b    = koefisien regresi.

Sb  = Standart error koefisien regresi.

  1. Kesimpulan

diterima apabila  .

ditolak apabila .

  1. Uji  F

Uji ini digunakan untuk mengetahui pengaruh antara variabel-variabel bebas dan variabel terikat secara bersama-sama.

  1. Perumusan hipotesis

1)       (tidak ada pengaruh antara variabel x dengan  variabel y).

2)       ( ada pengaruh antara variabel x dengan  variabel y).

  1. Level of significant t (a = 5%).
  2. Kriteria pengujian statistik.

 

Daerah diterima

Daerah ditolak

F ; k –1; k (n-1)

 

1)      H  diterima apabila .

2)      H  ditolak  apabila .

  1. Penghitungan nilai F

.

Keterangan :

R   = Koefisien Determinasi

k    = Banyaknya koefisien yang diteliti

n    = Banyaknya sampel

  1. Kesimpulan

Dilakukan perbandingan antara  dan , jika nilai  maka dapat dikatakan bahwa terdapat variabel independent  dengan variabel  dependent  secara bersama-sama sebaliknya jika  tidak ada pengaruh.

  1. Sumbangan Relatif dan Sumbangan Efektif

Untuk mencari besarnya sumbangan relatif masing-masing variabel bebas (prediktor) terhadap variabel terikat (kriterium) menggunakan rumus sebagai berikut:

  1. Prediktor X

%

  1. Prediktor X

%

Keterangan :

% X = Sumbangan relatif X

% X   = Sumbangan relatif X

= Jumlah produk antara X

= Jumlah produk antara X

= Jumlah produk antara X dan y

= Jumlah produk antara X dan y

(Hadi, 1986 : 26).

Adapun untuk mencari sumbangan efektif masing-masing variabel bebas (prediktor) terhadap variabel terikat (kriterium) menggunakan rumus sebagai berikut:

  1. Prediktor X

%  % .

  1. Prediktor X

%  % .

Keterangan:

% X     = Sumbangan relatif X

% X        = Sumbangan relatif X

%        = Sumbangan efektif X

%        = Sumbangan efektif X

= Koefisien korelasi determinasi

(Hadi, 1986 : 45).

BAB IV

PENYAJIAN DAN PEMBAHASAN

 

A.    Penyajian Data
  1.  Data Hasil Angket Emosi (X1)

Data Emosi diperoleh dengan cara teknik angket yang terdiri dari 20 item pernyataan. Angket dibagikan kepada 50 orang siswa kelas VII SMP Negeri 3 Jatiyoso. Dari hasil analisis dan perhitungan diperoleh nilai tertinggi sebesar 72, nilai terendah sebesar 47, rata-rata sebesar 59,54, median sebesar 59,36, modus sebesar 59,705 dan standar deviasi sebesar 6,184 serta varian sebesar 38,243.

Untuk mempermudah memahami data Emosi, maka data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi sebagai berikut:

Tabel 3.3

Distribusi Frekuensi Data Emosi

Interval Kelas

 Frekuensi

Frekuensi Relative

47 – 50

3

6,0%

51 – 54

8

16,0%

55 – 58

11

22,0%

59 – 62

14

28,0%

63 – 66

7

14,0%

67 – 70

4

8,0%

71 – 74

3

6,0%

Jumlah

50

100,0%

 

Berdasarkan tabel 3.3 diketahui bahwa frekuensi terbanyak dari data Emosi adalah skor antara 59 – 62 yaitu sebanyak 14 orang atau 28,0%. Sedangkan frekuensi terendah terdapat pada skor antara  47 – 50 dan 71 – 74 yaitu sebanyak 3 orang atau 6,0%.

Untuk melihat secara sekilas, apakah data yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak, maka disajikan histogram dan poligon dari distribusi frekuensi data Emosi sebagai berikut:

 

Gambar 4.1 Histogram dan Poligon data Emosi

Berdasarkan histogram dan poligon dapat dilihat bahwa data Emosi memiliki distribusi frekuensi yang mendekati normal. Namun untuk lebih pasti apakah data berdistribusi normal atau tidak, dapat dilihat dari hasil perhitungan uji normalitas.

  1. Data Hasil Tes Kecerdasan Otak (X2)

Data Kecerdasan Otak diperoleh dengan metode dokumentasi, yaitu mengambil dari hasil tes IQ siswa pada bagian kecerdasan umum (KU). Dari hasil analisis dan perhitungan diperoleh nilai tertinggi sebesar 128, nilai terendah sebesar 82, rata-rata sebesar 107,82, median sebesar 108,23, modus sebesar 107,7 dan standar deviasi sebesar 11,559 serta varian sebesar 133,620.

Untuk mempermudah memahami data Kecerdasan Otak, maka data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi sebagai berikut:

Table 3.4

Distribusi Frekuensi Data Kecerdasan Otak

Interval Kelas

 Frekuensi

Frekuensi Relative

82 – 88

3

6,0%

89 – 95

5

10,0%

96 – 102

8

16,0%

103 – 109

11

22,0%

110 – 116

10

20,0%

117 – 123

9

18,0%

124 – 130

4

8,0%

Jumlah

50

100,0%

 

Berdasarkan tabel 3.4 diketahui bahwa frekuensi terbanyak dari data Kecerdasan Otak adalah skor antara 103 – 109 yaitu sebanyak 11 orang atau 22,0%. Sedangkan frekuensi terendah terdapat pada skor antara  82 – 88 yaitu sebanyak 3 orang atau 6,0%.

Untuk melihat secara sekilas, apakah data yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak, maka disajikan histogram dan poligon dari distribusi frekuensi data Kecerdasan Otak sebagai berikut:

 

Gambar 4.2 Histogram dan Poligon data Kecerdasan Otak

Sama seperti data Emosi, berdasarkan histogram dan poligon dapat dilihat bahwa data Kecerdasan Otak memiliki distribusi frekuensi yang mendekati normal. Namun untuk lebih pasti apakah data berdistribusi normal atau tidak, dapat dilihat dari hasil perhitungan uji normalitas.

  1. Data Prestasi Belajar Ekonomi (Y)

Data prestasi belajar ekonomi diperoleh dengan metode dokumentasi, yaitu mengambil dari hasil nilai akhir semester siswa. Dari hasil analisis dan perhitungan diperoleh nilai tertinggi sebesar 90, nilai terendah sebesar 65, rata-rata sebesar 75,38, median sebesar 75,41, modus sebesar 77,39 dan standar deviasi sebesar 5,899 serta varian sebesar 34,802.

Selanjutnya untuk mempermudah memahami data prestasi belajar ekonomi, maka data disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi sebagai berikut:

Tabel 3.5

Distribusi Frekuensi Data Prestasi Belajar Ekonomi

Interval Kelas

 Frekuensi

Frekuensi Relative

65 – 68

7

14,0%

69 – 72

10

20,0%

73 – 76

11

22,0%

77 – 80

13

26,0%

81 – 84

6

12,0%

85 – 88

2

4,0%

89 – 92

1

2,0%

Jumlah

50

100,0%

 

Berdasarkan tabel 3.5 diketahui bahwa frekuensi terbanyak dari data prestasi belajar ekonomi adalah skor antara 77 – 80 yaitu sebanyak 13 orang atau 26,0%. Sedangkan frekuensi terendah terdapat pada skor antara 89 – 92 yaitu sebanyak 1 orang atau 2,0%.

Untuk melihat secara sekilas, apakah data yang diperoleh berdistribusi normal atau tidak, maka disajikan histogram dan poligon dari distribusi frekuensi data prestasi belajar ekonomi sebagai berikut:

 

Gambar 4.3 Histogram dan Poligon data Prestasi Belajar Ekonomi

Berdasarkan histogram dan poligon dapat dilihat bahwa data prestasi belajar ekonomi memiliki distribusi frekuensi yang tidak normal. Namun untuk lebih pasti apakah data berdistribusi normal atau tidak, dapat dilihat dari hasil perhitungan uji normalitas.

 

B.     Analisis Data
  1. Analisis Korelasi Sederhana

Analisis korelasi sederhana digunakan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan individual antara masing-masing variabel bebas (emosi dan Kecerdasan Otak) dengan variabel terikat (prestasi belajar ekonomi). Berdasarkan perhitungan menggunakan alat bantu program SPSS versi 12.0 diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 3.6

Ringkasan Uji Korelasi Sederhana

Variabel

N

rxy

Sifat

X1Y

X2Y

50

50

0,447

0,527

Positif

Positif

 

Dari tabel di atas diketahui bahwa koefisien korelasi rx1y dan rx2y adalah positif, berarti hubungan antara independen dan dependen adalah hubungan positif. Artinya kecenderungan peningkatan Emosi dan peningkatan Kecerdasan Otak akan diikuti peningkatan prestasi belajar ekonomi.

  1. Analisis Korelasi Parsial

Korelasi parsial digunakan untuk menghitung derajat hubungan antara variabel (prestasi belajar ekonomi) terhadap satu variabel bebas (X), jika variabel bebas lain tertentu atau konstan. Dari uji korelasi parsial yang dihitung dengan cara manual diperoleh hasil sebagai berikut :

  1. Korelasi antara Emosi dengan prestasi belajar ekonomi, jika Kecerdasan Otak (X2) tetap.

Dari hasil perhitungan diperoleh nilai koefisien korelasi parsial antara Emosi(X1) dengan prestasi belajar ekonomi (Y) sebesar 0,7446. Dari nilai koefisien tersebut dapat dikatakn bahwa terdapat korelasi yang positif dan kuat, artinya semakin tinggi nilai Emosi maka prestasi belajar ekonomi akan semakin tinggi pula dan sebaliknya semakin rendah nilai Emosi maka prestasi belajar ekonomi akan semakin rendah.

  1. Korelasi antara Kecerdasan Otak (X2) dengan Prestasi Belajar Ekonomi (Y), jika Emosi (X1) tetap.

Dari hasil perhitungan diperoleh nilai koefisien korelasi parsial antara Kecerdasan Otak(X1) dengan prestasi belajar ekonomi (Y) sebesar 0,7817. Dari nilai koefisien tersebut dapat dikatakan bahwa terdapat korelasi yang positif dan kuat, artinya semakin tinggi nilai  Kecerdasan Otak  maka prestasi belajar ekonomi akan semakin tinggi pula dan sebaliknya semakin rendah nilai Kecerdasan Otak maka prestasi belajar ekonomi akan semakin rendah.

  1. Analisis Korelasi Berganda

Dari perhitungan diperoleh nilai koefisien korelasi ganda (R) adalah sebesar 0,661. Berarti korelasi secara bersama-sama antara kedua variabel bebas (emosi dan Kecerdasan Otak) dengan variabel terikat (prestasi belajar) adalah positif.

Sedangkan nilai koefisien determinasi (R2) adalah 0,437, artinya kombinasi dari Emosi dan Kecerdasan Otak dapat mempengaruhi prestasi belajar ekonomi sekitar 43,7%. Sisanya 56,3% dipengaruhi oleh variabel lain diluar model.

  1. Pengujian Hipotesis
    1. Pengujian Hipotesis Pertama

Bunyi hipotesis pertama yang diajukan adalah “Ada pengaruh Emosi terhadap prestasi belajar ekonomi pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Jatiyoso“. Hipotesis ini diuji menggunakan analisis keberartian koefisien arah regresi atau dikenal dengan uji t, sebagai berikut:

1)      Hipotesis

H0 =  = 0 (tidak ada pengaruh X1 terhadap Y)

H1 =  0 (terdapat pengaruh X1 terhadap Y)

2)      Tingkat  Signifikansi 95%,  = 0,05

3)      Kriteria Pengujian

H0 diterima jika – t (a/2; n-k-1) ≤ t < t (a/2; n-k-1) atau signifikansi > 0,05

H0 ditolak jika  – t (a/2; n-k-1) ≥ t > t (a/2; n-k-1) atau signifikansi < 0,05

ttabel   =  t (/2, n-k-1) =  t (0,025, 47)    = 2,012

4)      Komputasi

Berdasarkan analisis memakai alat bantu SPSS 12.0 diperoleh nilai thitung sebesar 3,640 dengan signifikansi 0,001.

5)      Keputusan uji

H0 ditolak, karena thitung > ttabel, yaitu 3,640 > 2,012 dan nilai signifikansi < 0,05, yaitu 0,001.

Daerah terima H0

Daerah tolak H0

Daerah tolak H0

-2,012

3,640

2,012

0

 

 

 

 

Gambar 4.4 Grafik Statistik Uji t variabel Emosi terhadap prestasi belajar ekonomi

 

6)      Kesimpulan

Ada pengaruh Emosi terhadap prestasi belajar ekonomi pada siswa kelas VII  SMP Negeri 3 Jatiyoso.

  1. Pengujian Hipotesis Kedua

Hipotesis kedua yang diajukan adalah “Ada pengaruh Kecerdasan Otak terhadap prestasi belajar ekonomi pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Jatiyoso. Sama seperti pengujian hipotesi pertama, hipotesis kedua juga diuji menggunakan analisis keberartian koefisien arah regresi (uji t), sebagai berikut:

1)      Hipotesis

H0 =  = 0 (tidak ada pengaruh X2 terhadap Y)

H1 =  0 (terdapat pengaruh X2 terhadap Y)

2)      Tingkat  Signifikansi 95%,  = 0,05

3)      Kriteria Pengujian

H0 diterima jika – t (a/2; n-k-1) ≤ t < t (a/2; n-k-1) atau signifikansi > 0,05

H0 ditolak jika  – t (a/2; n-k-1) ≥ t > t (a/2; n-k-1) atau signifikansi < 0,05

ttabel   =  t (/2, n-k-1) =  t (0,025, 47)    = 2,012

4)      Komputasi

Berdasarkan analisis memakai alat bantu SPSS 12.0 diperoleh nilai thitung sebesar 4,448 dengan signifikansi 0,000.

5)      Keputusan uji

H0 ditolak, karena thitung > ttabel, yaitu 4,448 > 2,012 dan nilai signifikansi < 0,05, yaitu 0,000.

Daerah terima H0

Daerah tolak H0

Daerah tolak H0

-2,012

4,448

2,012

0

 

 

 

 

Gambar 4.5 Grafik Statistik Uji t variabel Kecerdasan Otak terhadap prestasi belajar ekonomi

 

 

6)      Kesimpulan

Ada pengaruh Kecerdasan Otak terhadap prestasi belajar ekonomi pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Jatiyoso.

  1. Pengujian Hipotesis Ketiga

Hipotesis ketiga yang diajukan adalah “Ada Emosi dan Kecerdasan Otak terhadap prestasi belajar ekonomi pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Jatiyoso”. Sebelum hipotesis ini diuji menggunakan uji keberartian regresi linier ganda (uji F), terlebih dahulu dilakukan analisis regresi ganda. Adapun ringkasan analisis regresi linier berganda yang dilakukan dengan alat bantu program SPSS 12.0 adalah:

Tabel 3.7

Rangkuman Hasil Uji Regresi Linier Berganda

 

Variabel Independen

Koefisien Arah Regresi

 Emosi 0,373
Kecerdasan Otak 0,247
Konstanta = 26,322

 

Berdasarkan Tabel 3.7 diperoleh persamaan regresi linier ganda sebagai berikut : Y = 26,322 + 0,373X1 + 0,247X2

Penjelasan persamaan regresi linear ganda tersebut adalah:

a = 26,322

Menyatakan bahwa jika Emosi dan Kecerdasan Otak tetap (tidak mengalami perubahan) maka nilai prestasi belajar ekonomi sebesar 26,322.

b1 = 0,373

Menyatakan bahwa setiap penambahan nilai Emosi sebesar 1, maka akan mengalami peningkatan prestasi belajar ekonomi sebesar 0,373. Dengan asumsi tidak ada penambahan (konstan) nilai Kecerdasan Otak.

b= 0,247

Menyatakan bahwa setiap penambahan nilai Kecerdasan Otak sebesar 1, maka akan mengalami peningkatan prestasi belajar ekonomi sebesar 0,247. Dengan asumsi tidak ada penambahan (konstan) nilai Emosi.

Setelah dilakukan analisis regresi linier berganda maka dilakukan uji keberartian regresi linier ganda (uji F) yang merupakan pengujian hipotesis ketiga penelitian, sebagai berikut:

1)      Hipotesis

H0 =  = 0 (tidak ada pengaruh secara bersama-sama X1 dan X2 terhadap Y)

H1 =  0 (ada pengaruh secara bersama-sama X1 dan X2 terhadap Y)

2)      Tingkat  Signifikansi 95%,  = 0,05

3)      Kriteria Pengujian

H0 diterima jika Fhitung  < F (a; k; n – k –1) atau signifikansi > 0,05

H0 ditolak jika F hitung > F(a; k; n – k –1) atau signifikansi < 0,05

Ftabel = F (k; n-k-1) = F (0,05; 2,47) = 3,195

4)      Komputasi

Berdasarkan analisis data memakai alata bantu program SPSS 10.2 diperoleh Fhitung sebesar 18,216 dengan siginifikansi sebesar 0,000

5)      Keputusan uji

H0 ditolak, karena Fhitung > Ftabel, yaitu 18,216 > 3,195 dan nilai signifikansi < 0,05, yaitu 0,000.

 

Daerah tolak H0

18,216

3,195

0

Daerah terima H0

 

 

 

Gambar 4.6 Grafik Statistik Uji F variabel Emosi dan Kecerdasan Otak

 

6)      Kesimpulan

Ada pengaruh Emosi dan Kecerdasan Otak terhadap prestasi belajar ekonomi pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Jatiyoso.

  1. Sumbangan Relatif dan Sumbangan Efektif

Dari hasil analisis menunjukkan bahwa variabel Emosi memberikan sumbangan relatif sebesar 40,96% dan sumbangan efektif 17,9%. Variabel Kecerdasan Otak memberikan sumbangan relatif sebesar 59,04% dan sumbangan efektif 25,8%. Berdasarkan besarnya sumbangan relatif dan efektif nampak bahwa variabel Kecerdasan Otak memiliki pengaruh yang lebih dominan terhadap prestasi belajar ekonomi dibandingkan variabel Emosi.

 

C.    Pembahasan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa Emosi dan Kecerdasan Otak berpengaruh terhadap prestasi belajar ekonomi. Hal ini dapat dilihat dari persamaan regresi linier sebagai berikut: Y = 26,322 + 0,373X1 + 0,247X2. Selanjutnya hasil uji koefisien determinasi memperoleh nilai R2 sebesar = 0,437 yang menunjukkan bahwa variabel Emosi dan Kecerdasan Otak berpengaruh terhadap prestasi belajar ekonomi sebesar 43,7%, sedangkan 56,3% sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti, misalnya gaya belajar, frekuensi belajar, minat belajar dan sebagainya.

Hasil uji hipotesis pertama dengan uji t regresi memperoleh thitung variabel Emosi (X1) sebesar 3,640 lebih besar dari ttabel (2,012) pada taraf signifikansi 5%. Hal ini berarti Emosi berpengaruh positif terhadap prestasi belajar ekonomi. Artinya semakin tinggi Emosi siswa, maka semakin tinggi prestasi belajar ekonomi siswa. Sebaliknya semakin rendah Emosi, maka semakin rendah prestasi belajar ekonomi siswa.

Hal ini sesuai dengan pendapat Menurut  Salovey dan Mayer (Shapiro, 1997:8) mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai “ himpunan-bagian dari kecerdasan sosial yang melibatkan kemampuan memantau perasaan dan emosi baik pada diri sendiri maupun pada orang lain, memilah-milah semuanya, dan menggunakan informasi ini untuk membimbing pikiran dan tindakan. Hasil beberapa penelitian di University of Vermont mengenai analisis struktur neurologis otak manusia dan penelitian perilaku oleh LeDoux (1970) menunjukkan bahwa dalam peristiwa penting kehidupan seseorang, EQ selalu mendahului intelegensi rasional.

Hasil uji hipotesis kedua dengan uji t regresi memperoleh thitung variabel Kecerdasan Otak (X2) sebesar 4,448 lebih besar dari ttabel (2,012) pada taraf signifikansi 5%. Hal ini berarti Kecerdasan Otak berpengaruh positif terhadap prestasi belajar ekonomi siswa. Artinya semakin tinggi Kecerdasan Otak siswa, maka semakin tinggi prestasi belajar ekonominya. Sebaliknya semakin rendah Kecerdasan Otak, maka semakin rendah prestasi belajar ekonomi siswa.

Hal ini sesuai dengan pendapat Slameto (1995: 54) salah satu faktor yang menentukan prestasi belajar adalah tingkat inteligensi (IQ). Tingkat inteligensi yang dimiliki siswa bersifat heterogen dan dapat digolongkan sesuai dengan tingkat kemampuannya. Pengetahuan mengenai tingkat inteligensi siswa akan membantu pengajar menentukan apakah siswa mampu mengikuti pengajaran yang diberikan atau tidak. Seseorang harus memiliki Kecerdasan Otak (IQ) yang tinggi, karena inteligensi merupakan bekal potensial yang akan memudahkan dalam belajar dan pada gilirannya akan menghasilkan prestasi belajar yang optimal.

Pengujian hipotesis ketiga dengan uji F memperoleh nilai Fhitung > Ftabel (18,216 > 3,195) pada taraf signifikansi 5%, maka Emosi dan Kecerdasan Otak secara bersama-sama berpengaruh positif terhadap prestasi belajar ekonomi siswa. Artinya Emosi dan Kecerdasan Otak dari siswa akan mempengaruhi prestasi belajarnya.

Menurut Goleman (2002 : 512), kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intelligence ); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial. EQ yang baik dapat menentukan keberhasilan individu dalam prestasi belajar membangun kesuksesan karir. Menurut Binet sebagaimana yang dikutip Langer (1990:33) Kecerdasan Otak atau angka Kecerdasan adalah “hasil-hasil yang diperoleh dari bandingan skor yang diperoleh seseorang dengan skor rata-rata kelompoknya”. Salah satu cara yang sering digunakan untuk menyatakan tinggi rendahnya tingkat inteligensi adalah menerjemahkan hasil tes inteligensi kedalam angka yang dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang bila dibandingkan secara relatif terhadap suatu norma.

Dalam proses belajar siswa, kedua inteligensi itu sangat diperlukan. IQ tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa partisipasi penghayatan emosional terhadap mata pelajaran yang disampaikan di sekolah. Pendidikan di sekolah bukan hanya perlu mengembangkan Rational Intelligence yaitu model pemahaman yang lazimnya dipahami siswa saja, melainkan juga perlu mengembangkan Kecerdasan Otak siswa.

Dari hasil analisis menunjukkan bahwa variabel Emosi memberikan sumbangan relatif sebesar 40,96% dan sumbangan efektif 17,9%. Variabel Kecerdasan Otak memberikan sumbangan relatif sebesar 59,04% dan sumbangan efektif 25,8%. Berdasarkan besarnya sumbangan relatif dan efektif nampak bahwa variabel Kecerdasan Otak memiliki pengaruh yang lebih dominan terhadap prestasi belajar ekonomi dibandingkan variabel Emosi.

 

 


BAB V

PENUTUP

A.     Kesimpulan

Berdasarkan analisis dan pembahasan yang telah dilakukan pada BAB sebelumnya maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Berdasarkan hasil uji keberartian koefisien arah regresi (uji t) diketahui bahwa H0 ditolak, karena thitung > ttabel, yaitu 3,640 > 2,012 dan nilai signifikansi < 0,05, yaitu 0,001. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian yang menyatakan “Ada pengaruh emosi terhadap prestasi belajar ekonomi pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Jatiyoso”.
  2. Berdasarkan hasil uji keberartian koefisien arah regresi (uji t) diketahui bahwa H0 ditolak, karena thitung > ttabel, yaitu 4,448 > 2,012 dan nilai signifikansi < 0,05, yaitu 0,000. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian yang menyatakan “Ada pengaruh kecerdasan Otak terhadap prestasi belajar ekonomi pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Jatiyoso”.
  3. Berdasarkan hasil uji keberartian regresi linier ganda (uji F) diketahui bahwa H0 ditolak, karena Fhitung > Ftabel, yaitu 18,216 > 3,195 dan nilai signifikansi < 0,05, yaitu 0,000. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hipotesis penelitian yang menyatakan “Ada pengaruh Emosi dan Kecerdasan Otak terhadap prestasi belajar ekonomi pada siswa kelas VII SMP Negeri 3 Jatiyoso”.dapat diterima.
  4. Variabel Emosi memberikan sumbangan relatif sebesar 40,96% dan sumbangan efektif 17,9%. Variabel Kecerdasan Otak memberikan sumbangan relatif sebesar 59,04% dan sumbangan efektif 25,8%. Berdasarkan besarnya sumbangan relatif dan efektif nampak bahwa variabel kecerdasan Otak memiliki pengaruh yang lebih dominan terhadap prestasi belajar ekonomi dibandingkan variabel Emosi.

B.     Implikasi

Berdasarkan kesimpulan ternyata Emosi sangat penting, sehingga perlu untuk dikembangkan dan ditumbuhkan bagi siswa, dengan cara menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan Emosi siswa, seperti mengadakan kegiatan ektrakurikuler, misalnya lomba cerdas cermat, study club dan pelatihan yang bertujuan untuk mengelola emosi diri, motivasi dan berinteraksi dengan orang lain.

Siswa yang memiliki Kecerdasan Otak tinggi bisa memperoleh prestasi belajar yang tinggi, tetapi siswa yang memiliki Kecerdasan Otak rendah juga mempunyai kesempatan memperoleh prestasi belajar yang tinggi pula. Diantaranya dengan membuat pola belajar yang baik dan menambah frekuensi belajar.

Emosi dan Kecerdasan Otak sangat penting karena IQ tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa partisipasi penghayatan emosional terhadap mata pelajaran yang disampaikan di sekolah. Pendidikan di sekolah bukan hanya perlu mengembangkan Rational Intelligence yaitu model pemahaman yang lazimnya dipahami siswa saja, melainkan juga perlu mengembangkan Kecerdasan Emosi siswa. Sehingga Emosi dan Kecerdasan Otak berpengaruh terhadap prestasi siswa di sekolah. Untuk mengembangkan EQ siswa dalam masyarakat dengan cara melatih siswa untuk ikut kerja bakti dilingkungan sekitar, mengajak siswa untuk ikut kegiatan bakti sosial.

 

C.     Saran

Dari hasil penelitian, pembahasan dan kesimpulan yang telah diambil, dapat diberikan beberapa saran sebagai berikut:

  1. Bagi siswa
    1. Siswa perlu memotivasi diri sendiri untuk lebih giat belajar agar dapat meningkatkan prestasi belajarnya.
    2. Siswa diharapkan untuk selalu berfikir positif agar terhindar dari frustasi terutama frustasi dalam belajar.
    3. Siswa hendaknya dapat membiasakan diri untuk lebih meningkatkan aktivitas belajar dengan sesering mungkin, menggunakan cara belajar yang efektif  hendaknya dikembangkan oleh siswa, yaitu belajar secara kontinyu, selalu melakukan persiapan jika hendak mengikuti pelajaran.
    4. Bagi guru
      1. Guru diharapkan dapat mengarahkan siswa pada hal-hal yang bersifat positif yang dapat menunjang keberhasilan studinya.
      2. Guru diharapkan selalu memberikan perhatian kepada siswa berkaitan dengan upaya belajar yang dilakukan siswa.
      3. Guru diharapkan selalu aktif berlatih dan meningkatkan kompetensi mengajar agar ketrampilan dasar mengajar yang dimiliki semakin meningkat.
      4. Bagi peneliti mendatang

Bagi penelitian yang akan datangsebaiknya penelitian ini dapat dijadikan bahan referensi dan memperluas area populasi penelitian agar hasil penelitian dapat digeneralisasikan pada lingkup yang lebih luas karena pada dasarnya masih terdapat faktor lain yang berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: