PROPOSAL SKRIPSI

PENGARUH PENDIDIKAN DAN PENDAPATAN TERHADAP KESADARAN MASYARAKAT DALAM MEMBAYAR PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DI DESA WONOKELING KECAMATAN JATIYOSO KABUPATEN KARANGANYAR TAHUN 2011

 

 

 

 

Usulan Penelitian Untuk Skripsi S-1

Pendidikan Ekonomi Akuntansi

 

 

 

 

Oleh

EDI RIYONO

A 210 070 170

 

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA

2011

USULAN PENELITIAN

 

PENGARUH PENDIDIKAN DAN PENDAPATAN TERHADAP KESADARAN MASYARAKAT DALAM MEMBAYAR PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DI DESA WONOKELING KECAMATAN JATIYOSO KABUPATEN KARANGANYAR TAHUN 2011

 

 

 

 

Diajukan Oleh:

EDI RIYONO

A210 070 170

 

 

 

 

Telah disetujui oleh:

Pembimbing I

Drs. Sudarto, Hs., M.M.

Pembimbing II

Dra. Wafroturrohmah, S.E.,M.M.

PENGARUH PENDIDIKAN DAN PENDAPATAN TERHADAP KESADARAN MASYARAKAT DALAM MEMBAYAR PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DI DESA WONOKELING KECAMATAN JATIYOSO KABUPATEN KARANGANYAR TAHUN 2011

 

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Negara Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk republik. Sebagai negara kesatuan, bangsa Indonesia mempunyai tujuan negara seperti halnya seperti negara-negara lain. Tujuan negara Indonesia di tuangkan dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alenia IV yaitu:

Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial.

 

Dalam rangka mewujudkan tujuan nasional tersebut, maka pemerintah menempuh langkah dengan jalan melaksanakan pembangunan di  semua sektor. Pembangunan nasional yang sedang dilaksanakan pemerintah dewasa ini pada hakekatnya adalah pembangunan manusia seutuhnya dan pembangunan manusia seluruhnya, dengan berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 guna mencapai tujuan nasional yaitu mewujudkan masyarakat adil dan makmur, material dan sepiritual. Dalam rangka mewujudkan tujuan nasional tersebut, maka pemerintah menempuh langkah dengan jalan melaksanakan pembangunan di semua bidang. Dengan adanya program pembangunan ini pemerintah akan banyak membutuhkan dana untuk pelaksanaannya. Oleh sebab itu untuk mendistribusikan beban pemerintah kepada masyarakat maka perlu digalakkan sumber penerimaan negara melalui pajak. Oleh karena itu biaya-biaya untuk melaksanakan pembangunan akan dapat terpenuhi dengan berbagai sumber penerimaan negara melalui:

  1. Bumi, air dan kekayaan alam
  2. Pajak-pajak dan bea cukai
  3. Hasi perusahaan negara
  4. Lain-lain seperti denda-denda dan keuntungan atau saham-saham yang dipegangnya, perdagangan, deviden, sertifikat dan sebagainya.

( Rochmad Soemitro, 1985 : 2 )

 

Dari teori tersebut diatas, terlihat bahwa sumber penerimaan negara berasal dari sektor pajak dan non pajak. Seiring dengan perkembangan jaman ini, pemerintah lebih menekanakan penerimaan negara dari sektor pajak mengingat sektor pajak sangat dominan bagi kepentingan pembangunan.

Upaya pemerintah untuk mendapatkan sektor pajak sebagai salah satu sumber pendapatan negara yang strategis semakin tampak setelah dikeluarkan UU No.9 tahun 1994 tentang ketentuan umum dan tata cara perpajakan, UU No. 10 tahun 1994 tentang pajak penghasilan UU No. 11 Tahun 1994 tentang PPn dan penjualan atas barang mewah dan sekaligus UU No. 12 tahun 1994 tentang pajak bumi dan bangunan. Serta di adakanya penyuluhan-penyuluhan mengenai pajak, akan tetapi penyuluhan tersebut hanya terbatas pada pelaksanaan perpajakan saja, sehingga masalah kesadaran untuk membayar pajak perlu diadakan pengkajian lebih lanjut.

Pada dasarnya faktor yang menghambat pembayar pajak adalah masalah kesadaran masyarakat, di mana perlu di beri pengarahan bahwa pajak itu bukan semata-mata merupakan kewajiban setiap warga negara, tetapi juga merupakan hak setiap masyarakat untuk ikut serta dalam pembiayaan negara melalui pembangunan. Berdasarkan kenyataan sekarang ini, bahwa sebagian besar masyarakat wonokeling mata pencahariannya adalah petani, pedagang dan perantauan sehingga pendapatan masyarakat masih relatif rendah, maka dana yang terhimpun dari peran serta masyarakat melalui pajak akan mengalami banyak kendala yaitu pembayaran pajak yang tidak tepat waktu atau menunggak sehingga pelaksanaan pembangunan akan terlambat atau tidak lancar.

Selain itu juga masalah pendidikan rakyat dimana lulusan masyarakat wonokeling sebagian besar lulusan Sekolah Dasar (SD) sedangkan lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Perguruan Tinggi  hanya sebagian kecil saja, dan bahkan ada masyarakat yang tidak bersekolah. Dalam hal ini pendidikan wajib pajak yang belum maju atau masih terbelakang akibatnya pandangan mengenai hakekat dan arti pembayaran pajak serta kesadaran dalam melaksanakan kewajiban dan mengalami kesulitan, sehingga menyebabkan program pembangunan akan mengalami hambatan. Pendidikan merupakan fenomena asasi dalam kehidupan manusia dengan kehidupan manusia dapat mencapai pada taraf yang tinggi baik bidang ekonomi, sosial, kultural ilmu pengetahuandan teknologi maupun kesusilaan.

Dalam konteks demikian pendidikan sebagai faktor pembangunan, baik dalam proses maupun pembudidayaan hasilnya. Hal ini secara merata terlihat dari partisipasi masyarakat melalui pembayaran pajak terutama pajak bumi dan bangunan. Oleh karena itu diharapkan setiap masyarakat memiliki kesadaran yang tinggi untuk memenuhi kewajiban membayar pajak terutama pajak bumi dan bangunan. Selanjutnya kesadaran seseorang dalam memenuhi kewajiban sebenarnya dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain pendidikan dan pendapatan. Tinggi rendahnya pendidikan dan pendapatan seseorang akan dapat mempengaruhi kesadaran dalam memenuhi kewajiban, penalaran, sikap maupun perilakunya.

Berdasarkan keterangan dari bapak kepala desa Wonokeling bahwa pada tahun 2011 pembayaran pajak bumi dan bangunan di desa Wonokeling mengalami banyak kendala yaitu pembayaran pajak bumi dan bangunan yang tidak tepat waktu ataupun terlambat, prosentase wajib pajak yang menunggak kurang lebih 30% dari jumlah wajib pajak yang membayar tepat pada waktunya. Oleh karena itu masalah kesadaran dalam rangka meningkatkan pendapatan yang berguna bagi pembangunan desanya dapat di lakukan melalui pembayaran pajak tepat pada waktunya, sehingga pemerintah dapat memanfaatkannya untuk pembangunan. Salah satu jenis pajak yang sangat mendukung bagi terlaksananya pembangunan di desa Wonokeling, kecamatan Jatiyoso, kabupaten Karanganyar  adalah pajak bumi dan bangunan. Dalam hal ini kesadaran masyarakat untuk membayar pajak bumi dan bangunan perlu adanya peningkatan baik kesadaran masyarakat, prosedur perpajakan terus di  sempurnakan dan aparatur perpajakan makin di arahkan agar dapat mendorong pendayagunaan dan pengembangan daerahnya.

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “PENGARUH PENDIDIKAN DAN PENDAPATAN TERHADAP KESADARAN MASYARAKAT DALAM MEMBAYAR PAJAK BUMI DAN BANGUNAN DI DESA WONOKELING, KECAMATAN JATIYOSO, KABUPATEN KARANGANYAR TAHUN 2011”

 

  1. B.     Pembatasan Masalah

Untuk mempermudah memahami permasalahan, perlu adanya pembatasan masalah. Agar tidak menyimpang dari persoalan pokok, maka pembatasan masalah terbatas pada :

  1. Pendidikan terhadap kesadaran masyarakat membayar pajak bumi dan bangaunan di desa Wonokeling, kecamatan Jatiyoso, kabupaten Karanganyar tahun 2011.
  2. Pendapatan masyarakat di desa Wonokeling, kecamatan Jatiyoso, kabupaten Karanganyar tahun 2011.
  3. Penelitian ini di lakukan di desa Wonokeling, kecamatan Jatiyoso, kabupaten Karanganyar.

 

 

  1. C.    Perumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang masalah, serta pembatasan masalah seperti yang dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Apakah pendidikan berpengaruh terhadap kesadaran masyarakat membayar pajak bumi dan bangaunan di desa Wonokeling, kecamatan Jatiyoso, kabupaten Karanganyar tahun 2011.
  2. Apakah pendapatan berpengaruh terhadap kesadaran masyarakat membayar pajak bumi dan bangaunan di desa Wonokeling, kecamatan Jatiyoso, kabupaten Karanganyar tahun 2011.
  3. Apakah pendidikan dan pendapatan berpengaruh terhadap kesadaran masyarakat membayar pajak bumi dan bangaunan di desa Wonokeling, kecamatan Jatiyoso, kabupaten Karanganyar tahun 2011.

 

  1. D.    Tujuan Penelitian

Penelitian merupaka suatu kegiatan ilmiah dimana berbagai data dan informasi dikumpulkan, diolah dan dianalisa yang bertujuan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan juga dalam rangka membantu memecahkan suatu masalah yang dihadapi. Tujuan penelitian ini mempunyai dua fungsi yaitu sebagai tolok ukur dan dasar berpijak, sesuai dengan permasalahan tersebut di atas, maka penulis menentukan tujuan penelitian menjadi dua yaitu:

  1. Untuk mengetahui pengaruh pendidikan wajib pajak terhadap kesadaran masyarakat dalam membayar pajak bumi dan bangunan didesa Wonokeling, kecamatan Jatiyoso, kabupaten Karanganyar tahun 2011.
  2. Untuk mengetahui pengaruh pendapatan wajib pajak terhadap kesadaran masyarakat dalam membayar pajak bumi dan bangunan didesa Wonokeling, kecamatan Jatiyoso, kabupaten Karanganyar tahun 2011.
  3. Untuk mengetahui pengaruh pendidikan dan pendapatan wajib pajak terhadap kesadaran masyarakat dalam membayar pajak bumi dan bangunan didesa Wonokeling, kecamatan Jatiyoso, kabupaten Karanganyar tahun 2011.

 

  1. E.     Manfaat Penelitian
    1. Bagi Peneliti :

Penelitian ini dapat bermanfaat untuk menambah ilmu pengetahuan dalam bidang akuntansi khususnya perpajakan serta menambah ilmu yang berharga dalam menganalisa dan memecahkan masalah dengan ilmu yang diperoleh diperguruan tinggi.

  1. Bagi Instansi :

Hasil penelitian ini diharapkan menjadi sumbangan pemikiran dan pertimbangan bagi Kantor Kelurahan dalam meningkatkan kinerja yang berhubungan dengan motivasi masyarakat dalam membayar Pajak Bumi dan Bangunan di wilayah Wonokeling pada masa yang akan datang.

 

  1. F.     Kajian Teori
    1. 1.      Kesadaran Membayar Pajak

Kesadaran merupakan suatu keadaan dimana seseorang melakukan suatu tindakan tanpa adanya paksaan dari pihak manapun. Menurut Feira (2002:125) “ Kesadaran merupakan kemauan disertai dengan tindakan dari refleksi terhadap kenyataan”. Sedangkan menurut Padila dan Prior (2002:194) “ Kesadaran merupakan suatu proses belajar dari pengalaman dan pengumpulan informasi yang diterima untuk mendapatkan keyakinan dari pengalaman dan pengumpulan informasi yang diterima untuk mendapatkan keyakinan diri yang mendorong dilakukanya suatu tindakan”.

Pada hakikatnya kesadaran membayar pajak adalah suatu keadaan dimana wajib pajak dalam keadaan tahu, mengerti dan tidak merasa dipaksa ataupun takut dalam melaksanakan kewajibannya, karena adanya nilai-nilai hukum dalam diri wajib pajak dan adanya pengetahuan bahwa suatu prilaku tertentu diatur oleh hukum.

  1. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesadaran

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kesasdaran

1)      Faktor indogen atau intern yaitu faktor yang datang dari dalam diri manusia itu sendiri untuk menerima dan mengolah pengaruh yang datang dari luar menurut kemampuannya.

2)      Faktor eksogen atau ekstren adalah faktor yang datang dari luar diri manusia dalam ini adalah faktor lingkugan.

Oleh karena itu maka sedikit banyaknya kesadaran seseorang dapat dipengaruhi oleh lingkungannya sehingga seseorang mempunyai kesadaran yang sesuai dengan pengaruh yang diterima di lingkungannya.

  1. Macam-macam tingkat kesadaran

Kesadaran di bagi menjadi tiga tingkatan:

1)      Tingkat kesadaran tinggi

Tingkat kesadaran tinggi adalah suatu sikap atau tindakan seseorang yang oleh orang tersebut didasarkan pada keinsafan yang disertai suatu usaha yang maksimal untuk melaksanakan tindakan tersebut dalam rangka mencapai tanpa ada pengaruh dari orang lain.

Dikaitkan dengan kesadaran membayar pajak bumi dan bangunan, maka yang dimaksud dengan kesadaran tinggi adalah keinsafan untuk membayar pajak bumi dan bangunan yang mendorong kesadaran akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara dan bertanggung jawab atas terselenggaranya serta tercapai tujuan pembangunan nasional.

2)      Tingkat kesadaran sedang

Tingkat kesadaran sedang adalah suatu sikap atau tindakan seseorang yang didasarkan oleh kesanggupan dari dirinya tanpa disertai suatu usaha yang maksimal dalam mencapai tujuan. Dalam hal ini kesadaran membayar pajak bumi dan bangunan dengan kesadarn sedang adalah adanya suatu keinsafan untuk membayar pajak karena dorongan dari pihak ketiga, sehingga usaha yang dilakukannya sebagai usaha yang tidak maksimal.

3)      Tingkat kesadaran rendah

Dalam tingkat kesadaran rendah ini meskipun timbul keinsafan namun masih memperhatikan pengaruh dari orang lain dan sama sekali tanpa diikuti oleh usaha serta tanpa sarana bertanggung jawab atas tercapainya suatu tujuan.

 

  1. 2.      Pendidikan Masyarakat
    1. Pengertian Pendidikan

Pada dasarnya pendidikan adalah perbuatan mendidik, sedangkan mendidik itu sendiri berarti membimbing pertumbuhan dan perkembangan anak-anak dengan sengaja agar menjadi seseorang yang dewasa, bertingkah laku baik dan berbudi pekerti yang luhur sehingga timbul kesadarannya guna berbakti kepada orang tua, bangsa dan tanah air.

Pendidikan berasal dari bahasa paedagogire, yang berarti membimbing anak, agar anak menjadi dan berbuat sebagai mana mestinya. Karena pada dasarnya pendidikan adalah suatu usaha mewariskan suatu kebudayaan atau warisan sosial kepada generasi berikutnya, sehingga pendidikan merupakan suatu cara melangsungkan kehidupan bagi bangsa dan Negara. John Dewey memberikan definisi pendidikan adalah sebagai proses pembentukan kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional secara alami antara sesama individu. Menurut Ki Hajar  Dewantoro pendidikan adalah “sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti (kekuatan bathin, karakter), pikiran (intektual) dan jasmani”

Dalam UUSPN No. 20 Tahun 2003, menyebutkan:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperluakn dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, (1991 : 232) “pendidikan adalah proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau kelompak orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan”.

Jadi pengertian pendidikan dapat diartikan sebagai perubahan baik sikap dan tingkah laku serta pengetahuan dan pendewasaan individu dalam berfikir, berpandangan dan menyesuaikan diri dengan orang lain. Dalam hal ini tingkat pengetahuan mengenai hakeket dan arti dari pembayaran pajak bumi dan bangunan akan dapat dipahami dan pelaksanaanya dapat lancer dengan baik. Pendidikan bukan hanya sekolah saja melainkan pembentukan konsep tingkah laku dan pola kehidupan masyarakat. Karena orang dalam pergaulan hidupnya selalu berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungannya, jadi proses pendidikan dan pengaruhya penting sekali artinya bagi perkembangan seseorang.

  1. Jenjang Pendidikan

Dalam GBHN (1993:124) menyebutkan bahwa jenjang pendidikan disekolah diklasifikasi menjadi tiga yaitu:

1)   Jenjang Pendidikan Dasar

2)   Jenjang Pendidikan Menengah

3)   Jenjang Pendidikan Tinggi

Pendidikan dijalur pendidikan sekolah merupakan pendidikan yang berjenjang. Jenjang pendidikan merupakan pengertian tahapn pendidikan berkelanjutan yang ditetapkan berdasar tingkat perkembangan peserta didik, keluasan dan kedalaman bahan pengajaran dan cara penyajian. Berdasarkan UU RI No. 20/2003 mengenai jenjang pendidikan dijelaskan: “Jenjajng pendidikan yang termasuk jalur pendidikan sekolah terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi”.

Dalam hal ini berdasarkan UU RI No. 20 tahun 2003 diatas berarti jenjang pendidikan dibagi menjadi tiga :

1)   Pendidikan dasar yaitu SD

2)   Pendidikan  menengah yaitu SMP dan SMA

3)   Pendidikan tinggi yaitu Perguruan Tinggi atau Akademis

Bahwasanya setiap aktivitas yang dilakukan oleh seorang yang sadar pasti mempunyai tujuan. Pada dasarnya pendidikan nasional bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dengan mengembangkan kemampuan dan meningkatkan kwalitas kehidupan manusia dalam rangka mewujudkan tujuan masyarakat adil dan makmur.

  1. 3.      Pendapatan Masyarakat

Pendapatan berasal dari kata dapat yang berarti berbuat sesuatu agar menghasilkan sesuatu, artinya bahwa pendapatan merupakan hasil perolehan untuk pencarian suatu pekerjaan sehingga memperoleh penghasilan. Menurut Abdurachman (1997:381) “Pendapatan sendiri adalah uang, barang-barang, materai atau jasa yang diterima atau bertambah besar selama jangka waktu tertentu”.

Menurut Niswonger (1992:22) “Pendapatan adalah jumlah yang ditagih kepada pelanggan atas barang  ataupun jasa yang diberikan kepada mereka”. Pada buku yang sama, Niswonger (1992:56) juga menjelaskan bahwa “Pendapatan atau reven ue merupakan kenaikan kotor atau gross dalam modal pemilik yang dihasilkan dari penjualan barang dagangan, pelaksanaan jasa kepada pelanggan atau klien, penyewa harta, peminjam uang, dan semua kegiatan usaha serta profesi yang bertujuan untuk memperoleh penghasilan”.

Dengan adanya teori tersebut maka dapat disimpulkan bahwa pendapatan merupakan jumlah seluruh uang, barang atau jasa yang diterima oleh seseorang atas suatu usahanya dalam jangka waktu tertentu. Dalam penelitian ini yang akan di kaji lebih lanjut adalah pendapatan rumah tangga yang sering disebut dengan personal income, dalam jangka waktu tertentu atas usaha yang dilakukanya. Nasution (1997:7) “Personal income adalah jumlah pembayaran yang diterima masyarakat atau individu baik dari upah bunga dan deviden”.

 

  1. 4.      Hubungan Antara pendidikan dengan Kesadaran

Pajak merupakan penghasilan penghasilan negara yang saat ini mulai di andalkan sebagai modal pembangunan, pemerintah mencoba untuk mengubah motivasi masyarakat untuk memenuhi kewajiban pajaknya.

Pendidikan adalah faktor yang sangat penting dalam perkembangan budi pekerti, kesuksesan maupun pemahaman seseorang dapat dilihat dari latar belakang pendidikannya, karena dengan pendidikan dapat membawa seseorang yang belum dewasa ketingkat kedewasaan dalam arti termotivasi dan mampu memikul tanggung jawab segala perbuatan secara moral.

Menurut Siti Nurwati (1995:67) “bahwa adanya perbedaan motivasi untuk memenuhi kebutuhan pajak pada wajib pajak yang memiliki latar belakang atau tingkat pendidikan, maka semakin tinggi proporsi motivasi untuk memenuhi kebutuhan wajib pajak”. Sedangkan menurut Fanny Yusronillah (2006:54) “bahwa pendidikan dan jenis pekerjaan wajib pajak tidak terpengaruh terhadap motivasi kewajiban pajak”.

Dari pernyatan diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan membawa seseorang kepada tingkat pemahaman atau tanggung jawabnya serta motivasi atau kesadaran untuk mematuhi berbagai hukum yang berlaku. Dalam hal ini pendidikan dan kesadaran sangat penting bagi masyarakat dalam melunasi pembayaran pajak. Dengan adanya pendidikan dapat menjadikan seseorang menjadi pribadi yang bijaksana dan wajib pajak taat akan melunasi pembayaran pajak khususnya pajak bumi dan bangunan.

 

  1. 5.      Hubungan Antara Pendapatan dengan Kesadaran

Di dalam suatu komunitas masyarakat, sering kali adanya perbedaan yang menyebabkan terjadinya kelas-kelas atau kasta. Hal ini biasanya disebabkan karena adanya perbedaan penghasilan atau banyaknya materi yang dimiliki. Dan tentunya hal ini juga sangat berpengaruh dalam kesadaran dan pengaturan masyarakat dalam membayar pajak bumi dan bangunan (PBB).

Masyarakat yang memiliki penghasilan sedang dan tinggi seharusnya tidak memiliki masalah untuk membayar pajak bumi dan bangunan (PBB) setiap tahunnya, dan kebanyakan dari mereka memiliki pengetahuan atau wawasan yang cukup luas dalam hal perpajakan.

Sedangkan masyarakat yang memiliki penghasilan yang rendah biasanya memiliki masalah dalam membayar pajak bumi dan bangunan, hal ini dikarenakan masih banyaknya kebutuhan ekonomi lainnya yang harus dipenuhi, sehingga mereka tidak mampu membayar pajak bumi dan bangunan.

Kesadaran masyarakat dalam membayar pajak bumi dan bangunan dapat dipengaruhi oleh beberapa hal yang diantaranya adalah perbedaan tingkat penghasilan masing-masing wajib pajak dimana pembayaran pajak ini bersifat mengikat dan diatur oleh undang-undang.

Sehingga dapat diduga jika penghasilan semakin tinggi maka kesadaran dan kepatuhan wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan akan meningkat pula. Sebaliknya jika tingkat penghasilan semakin rendah maka kesadaran wajib pajak membayar pajak bumi dan bangunan akan menurun pula.

 

  1. 6.      Hubungan Antara Pendidikan dan Pendapatan Wajib Pajak Dengan Kesadaran Masyarakat Dalam Membayar Pajak Bumi dan Bangunan.

Persoalan wajib pajak dalam membayar pajak memang di pengaruhi oleh banyak faktor di antaranya pendapatan dan latar belakang pendidikan wajib pajak yang relatif besar sehingga akan mengkondisikan kemampuannya untuk membayar pajak bumi dan bangunan oleh karena itu kondisi seperti ini akan membawa wajib pajak secara sadar memenuhi kewajibannya, demikian pula jika pendapatan dan pendidikan wajib pajak relatif rendah akan dapat melemahkan kemampuan wajib pajak untuk memenuhi kewajibannya membayar pajak bumi dan bangunan. Alasannya karena bagi wajib pajak yang menghasilkan rendah pemenuhan kewajiban membayar pajak akan diletakkan pada urutan ranking setelah kebutuhan utamanya terpenuhi.

Pendidikan wajib pajak merupakan dasar pengetahuan wajib pajak dalam merespon segala informasi tentang hakekat dan makna pembayaran pajak bagi kepentingan pembangunan nasional. Jika wajib pajak mempunyai pendidikan yang cukup memadai kemungkinan besar lebih baik di dalam memahami dan mengerti akan arti dan makna serta hakekat pembayaran pajak bumi dan bangunan dan sebaliknya bagi wajib pajak yang memiliki latar belakang pendidikan kurang atau rendah kemungkinan besar di dalam memahami hakekat dan makna pentingnya membayar pajak bumi dan bangunan agak relatif rendah, sehingga tingkat kesadarannya dalam membayar pajak akan berkurang.

 

  1. 7.      Hipotesis

Untuk memecahkan masalah yang ada maka perlu suatu hipotesis sehingga suatu penelitian dan pemecahan masalah akan lebih terarah. Hipotesis adalah jawaban sementara atau jawaban teoritis terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikemukakan dalam perumusan masalah. Hipotesis tersebut  diuji (dibuktikan) kebenarannya atau ketidak benarannya lewat pengumpulan dan penganalisaan data penelitian. Adapun hipotesis yang dikemukakan adalah sebagai berikut :

  1. Terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel pendidikan terhadap kesadaran masyarakat membayar pajak bumi dan bangunan.
  2. Terdapat pengaruh yang signifikan dari variabel pendapatan terhadap kesadaran masyarakat membayar pajak bumi dan bangunan.
  3. Terdapat pengaruh bersama-sama antara variabel pendidikan dan pendapatan terhadap kesadaran masyarakat membayar pajak bumi dan bangunan.

 

  1. Kerangka Pemikiran

Untuk mengetahui gambaran mengenai penelitian ini, maka diperlukan sebuah kerangka pemikiran yang sistematis untuk memecahkan masalah. Menurut Sugiyono (2003:47) “Kerangaka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori hubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting”.

  1. Variabel Independen

Yaitu variabel yang merupakan rangsangan untuk mempengaruhi variabel yang lain. Yang menjadi variabel independent adalah: pendidikan (X1), pendapatan (X2), kesadaran membayar pajak (Y).

  1. Variabel Dependen

Yaitu suatu jawaban atas hasil dari perilaku yang dirangsang.

Dalam hal ini yang menjadi variabel dependen adalah: kesadaran membayar pajak (Y). Dari uraian diatas, dapat diambil kerangka pemikiran sebagai berikut :

  1. Variabel X1 (pendidikan) mempengaruhi variabel Y (kesadaran membayar pajak bumi dan bangunan), variabel X2 (pendapatan) mempengaruhi variabel Y (kesadaran membayar pajak bumi dan vangunan).
  2. Secara bersama-sama, variabel X1 (pendidikan), X2 (pendapatan), mempengaruhi variabel Y (kesadaran membayar pajak bumi dan bangunan).

Untuk lebih jelasnya digambarkan dalam kerangka pemikiran sebagai berikut:

pendidikan (X1)

 

Kesadaran masyarakat membayar pajak bumi dan bangunan (Y)

 

 

 

 

Pendapatan(X2)

 

 

 

  1. H.    Tempat dan waktu penelitian
    1. Tempat

Penelitian dilaksanakan di desa Wonokeling, kecamatan Jatiyoso, kabupaten Karanganyar.

  1. Waktu

Penelitian dilakukan pada bulan April 2011 sampai selesai.

 

  1. I.       Metode Penelitian
    1. Jenis Penelitian

Terdapat beberapa jenis penelitian, antara lain adalah:

  1. Penelitian Kuantitatif, adalah penelitian yang menggunakan data    berbentuk angka atau data kualitatif yang diangkakan.
  2. Penelitian Kualitatif, adalah penelitian yang menggunakan data berbentuk   kata, kalimat, skema dan gambar.

Jenis penelitian yang dilakukan adalah kualitatif asosiatif karena meneliti data-data dari kantor desa untuk dijadikan sebagai sumber penelitian yang berupa catatan dan dokumen, penelitian asosiatif merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih.

  1. Metode Penentuan Obyek Penelitian
    1. Populasi

Menurut Sugiyono (2003:73) populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Dalam penelitian ini yang menjadi anggota populasi adalah seluruh wajib pajak bumi dan bangunan yang berada diwilayah desa Wonokeling, kecamatan Jatiyoso, kabupaten Karanganyar.

 

  1. Sampel

Menurut Sugiyono (2008:116) “Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”. Dalam penelitian ini sampel yang digunakan adalah 50 orang wajib pajak mempunyai karakter yang berbeda yaitu wajib pajak yang memiliki latar belakang pendidikan SD, SMP, SMA atau perguruan tinggi dan pendapatan yang rendah, menengah, ataupun tinggi. Dalam penelitian ini penulis akan menggunakan data PBB tahun 2011.

  1. Samping

Menurut Djarwanto dan Subagyo, (1996:111) ”sampling adalah cara atau teknik yang digunakan untuk mengambil sampel”. Menurut Djarwo dan Subagyo (1996:114) ada dua cara pengambilan sampel yaitu:

1) Random sampling

Adalah teknik pengambilan sampel dimana semua individu dalam populasi baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama diberi kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai anggota sampel. Cara pengambilan sampel dengan random ada tiga cara yaitu:

a)   Cara undian

b)   Cara ordinal

c)   Cara randomosasi

2)   Non random sampling

Adalah cara pengambilan sampel yang tidak semua anggota populasi diberi kesempatan untuk dipilih sebagai sampel. Macam-macam non random sampling adalah sebagai berikut:

a)   Quota sampling

b)   Purposive sampling

c)   Incidental sampling

d)  Proposional sampling

e)   Stratified sampling

Teknik pengumpulan sempel yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan Sampel Random Sampling, yaitu cara pengambilan sampel dari semua anggota populasi yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam anggota populasi itu.

 

  1. J.      Variabel penelitian

Dalam penelitian ini terdapat beberapa variasi yang harus ditetapkan oleh seseorang peneliti agar dapat mengumpulkan data yang terarah sesuai dengan tujuan penelitian. Pada penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu:

  1. Variabel Independent / variabel bebas

Menurut Sugiyono (2006:3) variabel bebas adalah variabel yang meliputi yang menjadi sebab timbulnya / berubahnya variabel dependent (variabel terikat). Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah pendidikan (X1), pendapatan (X2).

  1. Variabel Dependent / variabel terikat

Merupakan variabel yang dipengaruhi menjadi akibat karena adanya variabel bebas. Dalam penelitian ini variabel terikatnya adalah kesadaran masyarakat membayar pajak bumi dan bangunan (Y).

 

  1. K.    Teknik pengumpulan data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

  1. Metode Angket

Menurut Arikunto (2006:151) “Angket adalah sejumlah pertanyaan yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya atau mengenai hal-hal yang ia ketahui”. Dengan kata lain, angket merupakan metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara menggunakan pertanyaan yang harus dijawab atau dikerjakan oleh orang yang menjadi subyek data. Dalam penelitian ini penulis menggunakan angket dengan memakai jenis angket tertutup dan cara memberikan dengan cara langsung dimana angket dijawab oleh responden yang bersangkutan diberi kesempatan untuk memberikan jawaban yang disediakan.

Kisi-kisi angket

No

Variabel

Indikator

No Item

1 Pendidikan
  1. Tinggi dan rendahnya pendidikan wajib pajak, misalnya : lulus SD, SMP, maupun Perguruan Tinggi

 

1

 

2 Pendapatan
  1. Besar kecinya pendapatan yang diperoleh wajib pajak.

 

2,3,4,…..,15

 

3 Kesadaran wajib pajak
  1. Sadar dalam membayar pajak bumi dan bangunan sebelum waktu jatuh tempo.
16,17,18,….30

 

  1. Metode Dokumentasi

Menurut (Arikunto, 2006:158) ”Dokumentasi adalah mencari data atau variabel yang berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, raport, agenda dan sebagainya”. Metode dokumentasi digunakan untuk mengumpulkan data-data yang ada kaitannya dengan pendidikan dan pendapatan yang telah tercatat dalam identitas wajib pajak dikantor kelurahan dan kantor perpajakan di desa Wonokeling, kecamatan Jatiyoso, kabupaten Karanganyar.

  1. L.     Instrument Penelitian
    1. Uji Validitas Item

Menurut Azwar, (2005:5) “validitas adalah sejauh mana kecepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya”. Instrumen yang valid mempunyai validitas tinggi, sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti mempunyai validitas yang rendah. Oleh karena itu angket yang digunakan perlu diuji validitasnya. Suatu instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur data dari variabel yang diteliti. Dalam penelitian ini mengetahui validitas angket dengan menggunakan rumus product moment sebagai berikut:

Keterangan:

Rxy  : Koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y

X    : Skor item

Y    : Skor total

N    : Jumlah responden

Jika rxy > rtabel pada taraf signifikan 5% berarti item (butir soal) valid, sebaliknya bila rxy < rtabel maka butir soal tidak valid sekaligus tidak memiliki persyaratan (Arikunto, 2002:146).

  1. Uji Reliabilitas

Untuk mengetahui tingkat kestabilan alat ukur dilakukan uji reliabilitas. Angket dikatakan reliabel apabila dapat memberikan hasil yang relatif sama saat dilakukan pengukuran kembali pada obyek yang berbeda pada waktu yang berlainan. Pegujian reliabilitas angket menggunakan rumus sebagai berikut:

r11:

Keterangan:

r11        : Indeks reliabilitas alat ukur

K         : Banyaknya butir pernyataan

: Jumlah varian butir

: Varian total

(Arikunto, 2002:152)

Apabila r11 lebih besar dari nilai product moment dengan taraf signifikan 5% maka pernyataan tersebut reliabel. Adapun mengenai  interpretasi besarnya koefisien  korelasi adalah sebagai berikut (Arikunto, 2002:152):

  1. Antara 0,801 sampai dengan 1,000: sangat tinggi
  2. Antara 0,601 sampai dengan 0,800: tinggi
  3. Antara 0,401 sampai dengan 0,600: cukup
  4. Antara 0,201 sampai dengan 0,400: rendah
  5. Antara 0,000 sampai dengan 0,200: sangat rendah

 

  1. M.   Uji Prasyarat Analisis

Agar hasil analisis dapat dipertanggung jawabkan, maka sebelum dianalisis terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat. Uji prasarat yang dimaksud sebagai berikut:

  1. Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh dari masing-masing variable penelitian berdistribusi normal atau tidak. Uji ini dibenarkan pada variable pendapatan dan tingkat kesadaran wajib pajak. Untuk menguji normalitas data tersebut digunakan rumus Uji normalitas lililiefor dengan langkah:

  1. Menghitung dengan rumus:

Zi

Dimana:

Zi = angka baku

X = rata-rata

=

  1. Untuk setiap angka baku ( Zi ) dengan menggunakan distribusi normal baku, kemudian dihitung peluang F ( Zi ) = P ( Z<Zi )
  2. Hitung S ( Zi ) = banyaknya Z1, Z2, ……………Zn yang < Zi
  3. Hitung selisih F ( Zi ) – S ( Zi ) tentukan harga mutlaknya.
  4. Cari nilai terbesar ( Zi ) – S ( Zi )
  5. Kesimpulan:

Jika Lhitung > Ltabel menolak hipotesis statistik berarti distribusi sebaran datangnya tidak normal.

Jika Lhitung < Ltabel diterima hipotesis statistik, berarti distribusi ssebaran datangnya normal.

  1. Uji Linieritas

Uji ini dimaksudkan untuk mengetahui apakah model persamaan linier yang kita peroleh cocok atau tidak. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

  1. Nilai X1 yang sama disusun dijadikan satu dengan Yi pasanganya
  2. Menghitung:

1) JK(E) =

2) JK(TC) = JKres – JK(E)

3) JK(C) = JKres – JK(TC)

  1. Menghitung:

1)   df (E) =N-K

2)   df (TC) =K-2

K = banyaknya kelompok X

  1. Menghitung:

1)   RJK (E)           =

2)   RJK (E)           =

  1. Fhitung                  =
  2. F tabel ( 1 – £ ) ( K – 2, N – K )

Jika F hitung > F table, maka hipotesis nol ditolak berarti persamaanya tidak linier.

Jika F hitung < F table, maka hipotesis nol diterima berarti persamaanya linier.

 

N. Teknis Analisis Data

  1. Regresi berganda

Analisa ini digunakan untuk mencari pengaruh antara pendidikan dan pendapatan dengan kesadaran wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan. Adapun persamaan regrinya dengan rumus sebagai berikut:

Y = a + b1x2 +………..bnxn ( Djarwanto, 1993 :310)

Dimana:

b1 = koefisien predictor 1

b2 = koefisien predictor 2

x1 = pendidikan

x2 = pendapatan

Y = kesadaran wajib pajak

Untuk mencari harga koefisien predictor b1 dan b2 dapat dicari dengan persamaan garis regresi sebagai berikut:

  1.  = a  b2
  2. y = a  b2
    1. Uji F

Uji ini di gunakan untuk memperoleh kepastian apakah hubungan antara variable bebas dan variable terikatnya linier. Adapun untuk menguji signifikannya dilakukan analisis Fregresi rumus uji linieritas adalah sebagai berikut:

Fregresi =    (Sutrisno Hadi, 1982 : 22)

Dimana:

Freg = harga F garis regresi

R2 = cacah predictor

N = koefisien korelasi antara kriterium dan predictor-prediktor

Jika dihitung dalam tabel, maka hasilnya:

Sumber

Variasi

JK

db

RK

Freg

Ftabel

0,01%

0,05%

Regresi

Residu

           

 

  1. Uji t

Uji ini digunakan untuk menguji benarkah latar belakang pendidikan dan pendapatan berpengaruh terhadap kesadaran wajib pajak dalam membayar pajak bumi dan bangunan. Menurut Djarwanto, Ps (1996:183) karena jumlah sampel yang diambil lebih dari 50 maka akan digunakan uji t test. Adapun langkah-langkah dalam uji t test adalah:

  1. Menyusun formasi hipotesa t test adalah

Ho U = Uo

H1 U ≠ Uo

  1. Menentukan tingkat signifikan ∂ = 5%
  2. Menentukan peraturan-peraturan pengujiannya:

    Daerah diterima

    Daerah ditolak

    Daerah ditolak

    –t

    t  tab

     

 

 

 

                   µo

Ho diterima apabila:

-t 𝛼/2 ≤ t ≤ 𝛼/2

Ho ditolak apabila:

t > 𝛼/2 atau t < -𝛼/2

  1. Dari sampel ramdom yang diambil kemudian dihitung nilai t test dengan rumus:

t =   (Djarwanto, 1996 : 184)

  1. Dengan membangdingkan perhitungan pada langkah 4 dengan peraturan pengujian langkah ke 3kemudian diambil kesimpulan.
  2. Mencari besarnya sumbangan relative dan sumbangan efektif predictor X1 dan X2 terhadap kriterium (Y)

Efektif garis regrinya adalah:

x 100%

Harga mutlaknya:

a1  y

a2  y

+

Total

 

SR % X1 =    x 100%

SR % X2 =    x 100%

SE % X1 =    x 100%

SE % X2 =    x 100%

 

O. Sistematika Skripsi

Dalam hal ini penulis akan menggambarkan sedikit tentang materi yang akan penulis teliti.

BAB I         PENDAHULUAN

Bab ini berisi Latar Belakang Masalah, Pembatasan Masalah, Perumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Penelitian.

BAB II        LANDASAN TEORI

Pada bab ini menguraikan tentang teori-teori yang digunakan sebagai acuan dalam membahas permasalahan. Teori-teori tersebut antara lain : tinjauan pustaka, pendidikan, pendapatan, kesadaran masyarakat, pajak bumi dan bangunan, hubungan antara pendidikan dan pendapatan dengan membayar pajak bumi dan bangunan, hipotesis.

BAB III     METODE PENELITIAN

Pada bab ini menguraikan tentang pengertian Metode penelitian dan jenis penelitian, metode penentuan obyek penelitian, metode pengumpulan data dan teknik analisis data.

DAFTAR PUSTAKA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdurachman, 1997. Ensiklopedi Keuangan dan Perdagangan. Jakarta : Pradya karya.

 

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta

 

. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta

 

Azwar, syaifudin. 2000. Reliabilitas dan vadilitas. Yokyakarta : Pustaka Pelajar

 

Darminto, P. 1996. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1991. Kamus besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Depdikbud.

Djarwanto, Ps. 1993. Stastistik Induktif. Yokyakarta : BPFE.

Mardiasmo.2004. Pembaharuan Perpajakan yang ditinjau dari Segi Hukum. Yokyakarta : Prisma.

Nasution, 1997. Teori Ekonomi Makro. Jakarta : Djambatan.

Niswonger. 1992. Prinsip-prinsip Akuntansi 1. Jakarta : Erlangga

Siti Meichati, 1989. Pengantar Ilmu Pendidikan.Yokyakarta : FKIP Yokyakarta.

Subagyo, Djarwanto. 2005. Statistik Induktif. Yokyakarta : BFFE FE UGM.

Sugiyono. 2003. Metode Penelitian Bisnis. Bandung: CV. Alfabeta.

_______.  2006. Metode Penelitian Bisnis. Bandung:  CV. Alfabeta.

_______. 2008. Metode Penelitian Administrasi. Bandung:  CV. Alfabeta.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: