TEORI AKUNTANSI

Sejarah Teori Akuntansi

Dewasa ini, akuntansi telah mengalami perkembangan layaknya ilmu hukum, ilmu kedokteran, serta hampir semua bidang kegiatan manusia lainnya, sejalan dengan tuntutan kebutuhan sosial dan ekonomi masyarakat. Akuntansi telah mengembangkan konsep-konsep baru untu mengimbangi kebutuhan akan informasi keuangan yang terus-menerus meningkat guna melaksanakan pembangunan ekonomi dan program-program sosial. Akuntansi dapat dipandang dari dua sisi pengertian, yaitu sebagai pengetahuan keahlian yang dipraktekan dalam dunia nyata, dan sebagai suatu disiplin ilmu pengetahuan yang diajarkan di perguruan tinggi.

Pada awalnya, yaitu kira-kira tahun 3000 SM, akuntansi ditemukan di Mesir Kuno dan pada masa pemerintahan Yunani. Akuntansi yang ada pada saat itu hanya sekedar untuk mengetahui sumber-sumber keuangan kerajaan. Sehingga belum ada suatu sistem akuntansi yang sistematis untuk satu unit tertentu (hanya untuk sebagian transaksi saja).

Di zaman Mesir Kuno tersebut dijelaskan bahwa untuk mencatat transaksi hariannya, seorang manajer menggunakan calamos reed (sejenis kulit). Selain itu dikenal pula dua macam teknik akuntansi, yaitu dengan koin (dalam amplop) dan token. Pada tahun 1494, sistem double-entry mulai dikenal setelahnya sebagai system akuntansi modern, yaitu harta sama dengan hutang ditambah dengan modal. Lucas Pacioli mengklaim dirinya sebagai penemu pertamadari sistem akuntansi modern ini. Namun sebelumnya telah ada beberapa temuan double-entry system, yaitu berasal dari kawasan Timur Tengah. Kaum Muslimin berandil besar dalam perkembangan akuntansi dasar waktu itu. Setelah itu, bangsa Eropa mulai berdatangan untuk mengupas secara mendalam tentang akuntansi versi Timur Tengah tersebut.

Glautier (1973) membagi perkembangan sejarah akuntansi menjadi lima, yaitu:
1. Periode Prakapitalis.
2. Kapitalis Nascent.
3. Merkantilis.
4. Revolusi dan Industrialisasi.
5. Perkembangan pesat bidang akuntansi secara terus-menerus.

Timbulnya revolusi industri tahun 1776 menimbulkan efek positif terhadap perkembangan akuntansi. Salah satu yang menonjol ialah perubahaan cara memproduksi barang dari kerajinan tangan ke pabrikasi. Hal ini menyebabkan spesialisasi dalam Akuntansi Biaya meningkat pesat untuk memenuhi kebutuhan analisis biaya dan teknik pencatatannya. Akuntansi diperlukan untuk menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan yang berjalan sangat cepat, berkembangnya kegiatan ekonomi, dan masalah perbandingan pelaporan keuangan antar perusahaan.

Pada tahun 1800-1850, masyarakat mulai menggunakan dan menjadikan neraca sebagai tolak ukur kinerja sebuah perusahaan. Pada periode ini dikenal pula pemeriksaan keuangan (Financial Auditing). Pada tahun 1850, laporan rugi-laba mulai menggantikan peranan neraca dalam menilai efektivitas dan efisiensi perusahaan. Ilmu audit berkembang semakin pesat padaperiode ini. Tahun 1900, di Amerika Serikat diperkenalkan Sertifikat Profesi melalui ujian nasional untuk mendalami ilmu akuntansi melalui edukasi. Adanya laporan tentang pajak.Serta Akuntansi Biaya mulai dikenal termasuk laporan statistik biaya dan produksi.

Pada tahun 1925, mulai dikenal Akuntansi Pemerintahan untuk mengawasi dana pemerintahan, teknik-teknik analisis biaya mulai bermunculan dan diperkenalkan, laporan keuangan diseragamkan antar perusahaan, dirumuskannya Norma Pemeriksaan Akuntansi, munculnya EDP menggantikan sistem akuntansi manual dan lahirnya Akuntansi Perpajakan.

Namun tahun 1930, akuntansi mengalami tekanan dari para individu maupun kelompok di luar akuntansi yang merasa tidak puas terhadap kinerja para akuntan. Untuk mengatasi masalah itu, AIA membentuk komite yang bekerja sama dengan NYSE. Komite ini menyelesaikan masalah-masalah yang berkaitan dengan kepentingan umum (investor, pemerintah dan akuntan), serta masalah prosedur akuntansi.

Sebelum tahun 1930, tepatnya tahun 1917, FRB (Bank Sentral Amerika Serikat) dan FTC (Komisi Perdagangan Pusat) meminta AICPA untuk menyiapkan memorandum mengenai standarisasi prosedur akuntansi. Kemudian memorandum tersebut disetujui dan diterbitkan oleh FRB. Lalu pada tahun 1929, standar akuntansi mengalami revisiyang berisikan amanat-amanat sebagai berikut:

1. Amanat dalam penyajian laporan keuangan untuk mendapatkan kredit.
2. Amanat dalam perhitungan rugi-laba.

Namun setelah itu pada tahun 1936, standar akuntansi mengalami revisi kembali dengan amanat-amanat sebagai berikut:
1. Perubahan tujuan umum laporan akuntansi.
2. Peningkatan penekanan pada dasar harga pokok dan konsep kesinambungan dipertegas.
3. Semakin dibutuhkannya konsistensi dalam penerapan prosedur.
4. Perlunya perbaikan dalam pelaporan laba dan pengakuan konsep laba menurut daya laba.
5. Penekanan dalam perhitungan rugi-laba.
6. Perhitungan rugi-laba dipersingkat.

Komite-komite khusus dari AICPA ikut berperan dalam perkembangan prinsip-prinsip dan standar-standar akuntansi. Komite khusus ini ada sebelum terbentuknya Committee of Accounting Procedure (CAP)yang mengeluarkan Accounting Research Bulletin. Tetapi pada tahun 1950, karena CAP dinilai terlalu lamban dalam mempersiapkan pernyataan mengenai prinsipakuntansi yang dapat diterima umum, maka tahun 1957, Accounting Principles Board (APB) terbentuk. Tujuan APB ialah menyusun pernyataan tertulis tentang prinsi-prinsip akuntansi yang dapat diterima umum, mempersempit jurang perbedaan dalam praktek akuntansi, dan membahas masalah-masalah kontroversial yang belum terselesaikan. Dalam kurun waktu 14 tahun, APB telah menerbitkan 31 opini dan 4 pernyataan (statement). Tetapi teori akuntansi belum sampai pada tahap perumusan teoriyang lengkap.

Selama 5 tahun pertama, APB dikritik oleh berbagai jurusan karena tidak mampu memenuhi tujuan dalam mempersempit jurang perbedaan dan ketidak- konsistenan dalam pelaporan keuangan dan praktika akuntansi pada masalahyang baru. Penyebab utamanya ialah terungkapnya kecurangan dari audit laporan keuangan yang menyesatkan yang menyajikan ketidak relevanan informasi, serta ketidak mampuan APB membentuk landasan dasar sebagai pedoman dalam penetapan prinsip akuntansi.

Kemudian tahun 1971, Dewan Komisaris Institute menunjuk Wheat Study Group untuk menelaah penetapan standar akuntansi dan merekomendasikannya pada AICPAyang berisi:

  1.  Pembentukan Financial Accounting Foundation (FAF)
  2.  Pembentukan FASB oleh Board Trustee of FAF, berfungsi menetapkan standar pelaporan keuangan dan interpretasinya.
  3.  Pembentukan FASAC oleh Board Trustee of FAF, membantu komunikasi FASB dengan dunia usaha dan profesi akuntansi.
  4. Organisasi staf penelitian akuntansi yang berhubungan dengan FASB.

Setelah itu, FASB mengajukan proyek kerangka konseptual yang mencerminkan revolusi dalam pemikiran akuntansi. Perubahan-perubahan yang detil pun terjadi, diantaranya perubahan versi Paton dan Littleton Monograph pada tahun 1940. Pernyataan Paton dan Littleton Monograph mengenai tujuan akuntansidari segi sosial bertentangan dengan Statement of FAC.
Perubahan yang terjadi pada periode ini antara lain:

  1. Penggunaan komputer dalam pengolahan data.
  2.  Semakin dikenalnya Cost Revenue Analysis.
  3.  Penawaran jasa Konsultan Pajak dan Perencanaan pajak oleh profesi Akuntansi.
  4.  Dikenalnya Management Accounting sebagai akuntansi yang khusus diperuntukan untuk manajemen.
  5.  Munculnya jasa manajemen seperti Sistem Perencanaan dan Pengawasan.
  6.  Management Auditing mulai dikenal.

Perubahan penting lainnya ialah perubahan dari pendekatan berorientasi laba ke pendekatan neraca yang signifikan dan pengakuan ciri-ciri kualitatif dari interpretasi semantik. Kedua konsep ini dapat menghasilkan kerangka pelaporan sumber daya dan kewajiban serta bagi pengukuran laba komprehensif. Jika kedua konsep tersebut diinterpretasikan secara tegas, maka akan terlahir suatu kerangka konseptualyang revolusioner.

Literatur akuntansi yang berkaitan dengan teori akuntansi antara lain:

  1.  Pembahasan penyimpangan mengenai teori dan praktek akuntansi.
  2. Artikel dan buku rumusan teori akuntansi umum.
  3. Usaha perumusan teori akuntansi.
  4.  Penerapan disiplin ilmu lain untuk teori akuntansi.
  5. Pengujian empiris teori akuntansi.

Revolusi pemikiran akuntansi berkembang pesat pada tahun 1970-an dan tahun 1980-an. Hal ini disebabkan munculnya daun-daun muda sebagai penerus penelitian terhadap akuntansi. Mereka menggunakan berbagai teknik penelitian untuk menelaah akuntansi lebih dalam. Diantara beberapa teknik penelitian akuntansi, penelitian empiris dan penggunaan metode kuantitatif lebih sering digunakan dengan alasan ketepatan logis.

Penelitian dasar pada tahun 1970-1980 dimaksudkan untuk merumuskan dan membuktikan teori parsial. Dalam artian para peneliti mengukur sejauh mana asumsi mereka baik untuk ramalan masa datang dan dalam mengambil keputusan. Pada periode ini muncul perkembangan antara lain:

  1. Timbulnya Management Science yang mencakup analisis proses manajemen dan usaha menemukan dan menyempurnakan kekurangannya.
  2. Sistem Informasi semakin canggih (perkembangan model, perencanaan, judgement dan analisis cost benefit).
  3.  Penggunaan komputer dan teori cybernetic dalam metode permintaan.
  4.  Mulai dikenalnya metode pemeriksaan Total System Review.
  5.  Pembahasan pengaruh pencatatan transaksi perusahaan terhadap lingkungan masyarakat.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: